PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) membukukan laba bersih senilai 205 juta dollar AS atau setara Rp 3,57 triliun pada kuartal I-2026. Capaian tersebut mencerminkan lonjakan sebesar 954,2 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebagaimana dilansir dari Money.
Kenaikan signifikan juga terjadi pada rekor EBITDA kuartalan yang mencapai 421 juta dollar AS, meningkat 1.813,6 persen dibandingkan kuartal pertama tahun lalu. Pertumbuhan pesat ini dipicu oleh kontribusi segmen energi yang kini menyumbang 60 persen dari total pendapatan grup.
Chief Financial Officer Chandra Asri Grup, Andre Khor, memberikan penjelasan tertulis pada Selasa (5/5/2026) mengenai transformasi perusahaan yang berpijak pada fondasi infrastruktur regional. Strategi utama difokuskan pada pengoperasian kilang Aster di Singapura dan jaringan retail bahan bakar Esso.
"Di balik angka tersebut, pencapaian ini merupakan hasil dari transformasi disiplin melalui keberhasilan integrasi aset energi yang baru diakuisisi di Singapura," kata Andre Khor, Chief Financial Officer Chandra Asri Grup.
Integrasi tersebut mencakup akuisisi kilang Aster yang sebelumnya merupakan Shell Energy & Chemicals Park pada April 2025. Perusahaan juga telah merampungkan pengambilalihan jaringan bahan bakar ritel Esso dari ExxonMobil pada awal Januari 2026.
“Kami bekerja keras untuk memastikan kelancaran dari proses penyelesaian transaksi yang kompleks bersama Shell, CPSC, dan ExxonMobil berjalan lancar,” imbuh Andre Khor, Chief Financial Officer Chandra Asri Grup.
Keberhasilan akuisisi ini, bersama dengan unit infrastruktur PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDI) dan pusat layanan Chandra Asri Sentral Solusi (CASS), diklaim telah memberikan pendapatan berulang yang stabil. Chandra Asri kini juga menggandeng Glencore untuk melakukan diversifikasi bahan baku minyak mentah global.
Langkah diversifikasi ini dilakukan melalui pengadaan minyak mentah dari wilayah Amerika Utara, Amerika Latin, Afrika Barat, hingga Asia Tenggara. Strategi ini dirancang untuk memitigasi gangguan rantai pasok akibat risiko geopolitik, khususnya eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah.
"Namun, kemampuan kami dalam perluasan jenis minyak mentah dan kemampuan pengadaan global memungkinkan perusahaan untuk melewati hambatan konvensional demi menjaga operasional tetap lancar terlepas dari volatilitas regional," ujar Andre Khor, Chief Financial Officer Chandra Asri Grup.
Berdasarkan data keuangan internal, manajemen telah mengamankan likuiditas sebesar 3,8 miliar dollar AS untuk mendukung ekspansi. Dana ini akan digunakan untuk melanjutkan pembangunan proyek Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) senilai 800 juta dollar AS yang ditargetkan beroperasi pada 2027.
Struktur modal perusahaan tetap terjaga kuat dengan current ratio sebesar 3,09 kali dan EBITDA coverage 4,01 kali. Selain itu, terdapat cadangan pinjaman terkait keberlanjutan senilai 1 miliar dollar AS yang diperoleh pada September 2025 guna mendukung modal kerja dan peremajaan aset operasional.