PT Timah Tbk (TINS) berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 1,5 triliun pada kuartal I-2026 seiring terjadinya lonjakan harga jual rata-rata (ASP) komoditas timah serta ekspansi margin perusahaan yang signifikan dalam tiga bulan pertama tahun ini.
Pencapaian laba bersih emiten pelat merah tersebut dilansir dari Investasi telah mencapai sekitar 44,6 persen dari target tahunan sepanjang 2026 yang sudah direvisi oleh pihak analis.
Melihat performa kuartal pertama yang solid, BRI Danareksa Sekuritas memutuskan untuk menaikkan proyeksi laba bersih TINS tahun 2026 sebesar 13,4 persen menjadi Rp 3,4 triliun dengan asumsi harga jual naik menjadi US$ 50.000 per ton.
Selama periode Januari-Maret 2026, volume penjualan timah olahan TINS menyentuh angka 6.000 ton dengan ASP mencapai US$ 49.200 per ton, sementara biaya tunai terkendali di level US$ 21.500 per ton.
Efisiensi dan tingginya harga jual sukses mengerek margin kotor perusahaan ke angka 38,6 persen, margin EBITDA menjadi 37,2 persen, serta margin laba bersih yang melesat hingga 27,5 persen.
Pihak analis menilai hasil laporan keuangan pada periode triwulan pertama ini menjadi bukti konkret adanya pembalikan arah performa keuangan perseroan.
"Hasil kuartal I-2026 mengonfirmasi tesis kami mengenai titik balik pertumbuhan laba (earnings inflection). Kinerja kuat ini ditopang oleh harga jual rata-rata yang tinggi serta ekspansi margin yang signifikan," tulis Andhika Audrey, Analis BRI Danareksa Sekuritas dalam riset Jumat (29/5/2026).
Kendati mencatat kinerja kuat di awal tahun, proyeksi volume penjualan untuk keseluruhan tahun ini tetap dipertahankan pada level konservatif sebesar 25.000 ton karena mempertimbangkan ketidakpastian regulasi.
"Kami menghindari annualisasi langsung atas volume kuartal pertama karena pengiriman pada April 2026 berpotensi terganggu oleh masa transisi regulasi dan risiko waktu penerbitan RKAB setelah berakhirnya relaksasi RKAB pada akhir Maret 2026," jelas Andhika Audrey.
Kekhawatiran terkait regulasi tersebut juga mendasari langkah penyesuaian target keuangan jangka panjang termasuk pemangkasan proyeksi laba bersih untuk tahun berikutnya.
Selain masalah waktu penerbitan RKAB, munculnya usulan terkait perubahan tarif royalti baru dinilai menjadi salah satu faktor risiko paling besar yang berpotensi menekan profitabilitas TINS di masa mendatang.
"Royalti yang lebih tinggi dapat menggerus margin kas secara material dan membatasi potensi rerating saham TINS dalam jangka pendek," ujar Andhika Audrey.
Meskipun terdapat bayang-bayang risiko regulasi dan penurunan target harga saham ke level Rp 4.500 per saham, rekomendasi beli untuk saham TINS masih dipertahankan.
"Target multiple 10 kali P/E masih setara sekitar dua standar deviasi di atas rata-rata historis forward P/E TINS, yang mencerminkan keberlanjutan fase pemulihan laba meskipun terdapat ketidakpastian regulasi," tulis Andhika Audrey.
Pada perdagangan hari Jumat (29/5/2026), harga saham TINS di bursa ditutup mengalami penurunan tipis sebesar 0,31 persen dan berada pada posisi Rp 3.210 per lembar saham.