Laba Bersih Sido Muncul Merosot 36,8 Persen Kuartal Pertama 2026

Laba Bersih Sido Muncul Merosot 36,8 Persen Kuartal Pertama 2026

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) membukukan penurunan laba bersih sebesar 36,8 persen secara tahunan menjadi Rp 147,21 miliar pada kuartal pertama tahun 2026 akibat proses penyesuaian stok di tingkat distributor.

Dilansir dari Investasi, emiten produsen obat herbal tersebut juga mengalami kontraksi pendapatan sebesar 19 persen secara year on year menjadi Rp 640,5 miar pada periode yang sama.

Penurunan kinerja keuangan ini mendorong manajemen SIDO merevisi panduan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih tahun 2026 menjadi datar atau nol persen, dari target awal sebesar 5 persen hingga 8 persen.

Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia Steven Willie menjelaskan bahwa penurunan pendapatan emiten bersandi saham SIDO tersebut dipicu oleh pembenahan persediaan saluran serta penerapan disiplin penjualan yang lebih ketat.

"Manajemen juga telah mengesampingkan kenaikan harga jual rata – rata (ASP) secara luas pada tahun 2026, memperlakukan kenaikan harga sebagai upaya terakhir mengingat lingkungan konsumen yang semakin selektif," ujar Steven.

Melalui risetnya, Steven memproyeksikan total pendapatan SIDO sepanjang tahun 2026 dapat menyentuh Rp 4,19 triliun dengan perolehan laba bersih mencapai Rp 1,25 triliun.

Di sisi lain, Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan memandang kemerosotan margin pada tiga bulan pertama tahun ini terjadi akibat pembatasan distribusi secara sengaja untuk mengatasi penumpukan inventori selama dua hingga tiga bulan.

"Jadi, tekanan di kuartal I – 2026 lebih bersifat penyesuaian sementara, bukan sepenuhnya karena permintaan akhir yang hilang," kata Ekky pada Senin, 25 Mei 2026.

Ekky menambahkan bahwa pemulihan bertahap berpotensi terjadi pada kuartal kedua seiring selesainya proses destocking, meski tantangan daya beli masyarakat dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap biaya kemasan plastik tetap perlu diwaspadai.

"Jadi untuk semester I-2026, kinerja SIDO berpotensi membaik dibanding kuartal I, tetapi kemungkinan masih belum kembali ke level pertumbuhan yang kuat seperti periode normal sebelumnya," ucap Ekky.

Sementara itu, Analis UBS Sekuritas Indonesia Permada Darmono mengungkapkan bahwa manajemen perusahaan telah melakukan mitigasi risiko biaya dengan menetapkan harga tetap untuk pasokan kemasan utama dan bahan baku makanan minuman hingga Desember 2026.

"Elemen pengemasan (sekitar 20% dari Harga Pokok Penjualan) tetap menjadi risiko input utama dalam jangka pendek di tengah volatilitas minyak dan petrokimia," ujar Permada.

Menurut Permada, beberapa faktor risiko eksternal lain yang berpotensi menghambat laju bisnis SIDO mencakup lonjakan inflasi, perebutan pangsa pasar domestik, gangguan platform distribusi, hingga kelambatan ekspansi ke pasar luar negeri.

Artikel terkait

Rekomendasi