Laba Bersih PT Surya Semesta Internusa Tbk Melesat Kuartal I-2026

Laba Bersih PT Surya Semesta Internusa Tbk Melesat Kuartal I-2026

Kinerja keuangan PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mencatatkan pembalikan arah yang signifikan pada awal tahun ini. Emiten yang bergerak di sektor properti dan kawasan industri tersebut berhasil meraih hasil positif pada tiga bulan pertama tahun 2026.

Dikutip dari Investasi, perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 1,44 triliun pada kuartal I-2026. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 35% jika dibandingkan dengan perolehan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 1,07 triliun.

Sektor jasa konstruksi menjadi penopang utama pendapatan dengan kontribusi mencapai Rp 788,64 miliar. Sementara itu, segmen tanah kawasan industri menyumbang sebesar Rp 406,01 miliar bagi pendapatan perseroan.

Pendapatan SSIA lainnya berasal dari segmen perhotelan yang menyumbang Rp 162,43 miliar. Ditambah lagi dari lini jasa pemeliharaan dan utilitas sebesar Rp 84,22 v-miliar, serta bisnis sewa yang mendatangkan Rp 4,67 miliar.

Pertumbuhan omzet ini turut mendorong perbaikan performa pada lini bawah perseroan. SSIA sukses mengantongi laba bersih senilai Rp 89,01 miliar pada kuartal I-2026, berbalik dari kondisi kuartal I-2025 yang menderita rugi bersih Rp 21,70 miliar.

Arvin Lienardi selaku Analis Bahana Sekuritas mencermati bahwa pertumbuhan kinerja SSIA masih disokong oleh tingginya permintaan di kawasan industri Subang Smartpolitan. Permintaan masif ini utamanya datang dari sektor pusat data serta rantai pasok industri otomotif.

Hingga periode Mei 2026, permintaan lahan atau inquiries pada kawasan terpadu tersebut sudah menyentuh 263 hektare. Jumlah ini menunjukkan peningkatan yang cukup besar dari posisi Desember 2025 yang berada di sekitar 160 hektare.

Pihak Bahana Sekuritas memproyeksikan bahwa realisasi penjualan lahan milik SSIA berpotensi terus membaik sepanjang tahun ini. Perusahaan saat ini mengantongi backlog serah terima lahan seluas kurang lebih 50 hektare dengan nilai mencapai Rp 500 miliar yang siap diakui pada tahun 2026.

Di samping itu, jajaran manajemen menetapkan target prapenjualan lahan seluas 60 hektare yang berlokasi di wilayah Subang dan Karawang. Terdapat pula potensi dari penjualan lahan secara massal dengan target mencapai 80 hingga 90 hektare di Subang, sehingga total potensi penjualan lahan diperkirakan berkisar 140 sampai 150 hektare.

"Kami percaya dimulainya pembangunan pabrik BYD sejak Juni 2025, penyelesaian jalan tol, dan status kawasan ekonomi khusus (KEK) akan menjadi katalis utama yang mengubah permintaan menjadi penjualan lahan," tulis Arvin pada riset 12 Mei 2026.

Walaupun prospek jangka panjang dari emiten ini dinilai masih menjanjikan, Bahana Sekuritas memilih untuk memangkas proyeksi laba bersih SSIA untuk tahun 2026 dan 2027 sebesar 13,2% dan 12,8%. Estimasi perolehan laba bersih disesuaikan menjadi Rp 344 miliar untuk tahun 2026 dan Rp 375 miliar untuk tahun 2027.

Langkah penyesuaian target tersebut diambil dengan mempertimbangkan beberapa faktor risiko eksternal. Faktor penekan yang dimaksud meliputi meningkatnya tensi konflik geopolitik di Timur Tengah, kenaikan pada biaya konstruksi, serta biaya pembiayaan yang membengkak melebihi prediksi awal.

Sinyal Pemulihan Ekonomi dan Bisnis Perhotelan

Analisis lain datang dari James Stanley Widjaja yang merupakan analis Henan Putihrai Sekuritas. Ia menyebutkan bahwa fase terendah dari kinerja keuangan SSIA sudah terlewati pada tahun 2025 lalu dan kini mulai memasuki masa pemulihan.

Faktor pendorong utama pemulihan ini bersumber dari backlog penjualan lahan seluas 58,7 hektare dengan nilai ekonomis Rp 964,1 miliar. Seluruh nilai dari pencapaian tersebut dijadwalkan masuk dalam pembukuan perusahaan pada semester I-2026.

Sektor bisnis perhotelan milik perseroan juga diprediksi akan memperkuat pendapatan berulang atau recurring income. Sentimen positif ini hadir setelah selesainya proses renovasi hotel Paradisus by Melia Bali yang memakan waktu selama satu tahun.

"Manajemen memperkirakan hotel tersebut dapat mendorong pertumbuhan pendapatan sekitar 10% pada 2026," tulis James pada riset tanggal 27 April 2026.

Bagaimanapun juga, James tetap memberikan catatan peringatan mengenai imbas konflik geopolitik di Timur Tengah serta krisis energi tingkat global yang membayangi operasional SSIA. Dampak risiko eksternal ini bisa menyasar langsung ke berbagai lini bisnis perusahaan.

Risiko yang berpotensi muncul di antaranya adalah kenaikan ongkos energi pada sektor konstruksi. Selain itu, ada potensi penurunan jumlah pelancong ke Pulau Dewata akibat lonjakan harga tiket pesawat, hingga berkurangnya tingkat keterisian hotel karena langkah efisiensi anggaran dari pemerintah.

Meski dihantui risiko global, prospek Subang Smartpolitan sebagai sentra manufaktur baru di tanah air dinilai tetap kokoh. Minat investasi pada kawasan industri tersebut terpantau stabil, khususnya dari perusahaan bidang teknologi, utilitas, serta otomotif yang berbasis di China.

James menambahkan bahwa para pemodal tersebut mengusung visi investasi jangka panjang. Posisi Indonesia sendiri dinilai sangat strategis dalam memfasilitasi diversifikasi rantai pasok untuk skala regional.

"Karena pasokan lahan industri di Greater Jakarta secara struktural terbatas, Subang Smartpolitan merupakan alternatif pusat industri jangka panjang yang menarik, dengan lahan luas yang tersedia untuk investor manufaktur skala besar," kata James.

Berdasarkan perkembangan krisis energi dan dinamika geopolitik, James menurunkan proyeksi laba per saham atau EPS SSIA masing-masing sebesar 45,8% untuk tahun 2026 dan 48,4% untuk tahun 2027.

Walakin, Henan Putihrai Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham SSIA dengan target harga Rp 2.200 per saham berdasarkan pertimbangan valuasi ke depan. Sementara itu, Bahana Sekuritas menyematkan rekomendasi buy dengan target harga saham Rp 2.300 dari yang sebelumnya sebesar Rp 2.500 per saham karena adanya tekanan biaya material pada konstruksi.

Artikel terkait

Rekomendasi