PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) membukukan laba bersih senilai Rp17,8 triliun sepanjang tahun 2025 dengan margin laba bersih sebesar 12,1 persen. Perolehan tersebut ditopang oleh pendapatan konsolidasi perusahaan yang menembus angka Rp146,7 triliun sebagaimana dilaporkan pada Selasa (12/5/2026).
Dilansir dari Market, emiten telekomunikasi pelat merah ini juga mencatatkan laba bersih yang dinormalisasi sebesar Rp22,7 triliun. Capaian ini menghasilkan margin laba bersih normalisasi pada level 15,4 persen di tengah pelaksanaan strategi transformasi perusahaan.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menjelaskan bahwa hasil positif ini merupakan dampak dari kepercayaan pasar terhadap langkah strategis perseroan. Efisiensi dan penguatan nilai pemegang saham juga menjadi fokus utama manajemen selama periode berjalan.
“Hal ini mencerminkan respons positif pasar terhadap eksekusi strategi transformasi Telkom, yang turut didukung oleh kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham secara konsisten melalui payout ratio sebesar 89% untuk pembayaran tahun buku 2024 serta pelaksanaan program share buyback dengan nilai maksimal Rp3 triliun yang masih berlangsung hingga Mei 2026,” kata Dian Siswarini, Direktur Utama Telkom.
Berdasarkan data laporan keuangan, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) konsolidasi tercatat Rp72,2 triliun. Selain itu, perusahaan mencatatkan total shareholder return (TSR) sebesar 35,7 persen yang terdiri dari capital gain dan dividend yield.
Sektor mobile dan fixed broadband melalui Telkomsel menyumbang pendapatan sebesar Rp109,2 triliun. Peningkatan trafik data sebesar 15 persen secara tahunan menjadi penggerak utama pertumbuhan pada segmen konsumen tersebut.
“Langkah ini diiringi dengan penguatan ekosistem digital agar layanan Telkomsel tetap relevan bagi masyarakat,” kata Dian Siswarini, Direktur Utama Telkom.
Pada lini infrastruktur bisnis ke bisnis (B2B), Telkom melalui unit bisnisnya telah membangun kabel serat optik lebih dari 210.000 kilometer. Pendapatan dari segmen infrastruktur ini tumbuh 9,2 persen menjadi Rp8,9 triliun.
“Langkah ini sejalan dengan komitmen perusahaan dalam mendukung ketahanan digital Indonesia yang inklusif,” kata Dian Siswarini, Direktur Utama Telkom.
Anak usaha lainnya, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel), menyumbang pendapatan Rp9,5 triliun dengan kepemilikan 40.230 menara telekomunikasi. Sementara itu, segmen Wholesale & International Service mencatatkan pendapatan sebesar Rp10,7 triliun sepanjang tahun 2025.
Manajemen mengakui adanya tantangan berupa penurunan permintaan solusi korporasi dari sektor pemerintahan dan swasta akibat kebijakan efisiensi. Namun, Telkom tetap mengalokasikan belanja modal sebesar Rp27,5 triliun untuk pengembangan infrastruktur digital.
“Ke depan, Telkom akan terus melangkah dengan arah yang lebih terstruktur untuk menghadirkan kinerja yang semakin solid serta memberikan manfaat optimal bagi seluruh pemangku kepentingan,” kata Dian Siswarini, Direktur Utama Telkom.