PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 189,48 persen menjadi Rp 433,49 miliar pada kuartal I 2026 di tengah lonjakan harga emas dunia, Kamis (7/5/2026). Dilansir dari Money, emiten manufaktur ini juga meraih pendapatan Rp 20,16 triliun atau naik 196,96 persen secara tahunan.
Peningkatan pendapatan tersebut melesat signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp 6,78 triliun. Kenaikan kinerja keuangan ini sejalan dengan laba bersih tahun sebelumnya yang hanya berada di angka Rp 149,75 miliar.
Direktur Utama PT Hartadinata Abadi Tbk, Sandra Sunanto menjelaskan bahwa awal tahun 2026 menjadi momentum positif bagi perusahaan. Hal ini dipicu oleh akumulasi volume penjualan serta penguatan harga komoditas emas di pasar global.
“Perseroan mengawali tahun 2026 dengan kinerja yang sangat positif, didukung oleh pertumbuhan volume penjualan dan penguatan harga emas global,” ujar Sandra Sunanto, Direktur Utama PT Hartadinata Abadi Tbk.
Manajemen menyatakan komitmennya untuk memperkuat rantai bisnis dari hulu ke hilir. Langkah ini mencakup optimalisasi kapasitas produksi serta perluasan kanal distribusi agar pertumbuhan perusahaan tetap terjaga secara konsisten di masa mendatang.
“HRTA akan terus berfokus pada penguatan ekosistem bisnis emas yang terintegrasi, optimalisasi kapasitas produksi, serta penguatan jaringan distribusi guna menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan,” lanjut Sandra.
Volume penjualan emas murni perusahaan tercatat tumbuh 75,18 persen menjadi 7,83 ton dengan harga jual rata-rata (ASP) mencapai Rp 2.567.213 per gram. Segmen grosir menjadi kontributor utama pendapatan dengan porsi 90,60 persen, termasuk pasokan ke bullion bank dan perbankan syariah.
Sementara itu, segmen ritel memberikan kontribusi sebesar 9,13 persen dan sektor gadai menyumbang 0,26 persen. Kondisi pasar pada April 2026 sendiri dipengaruhi konflik Timur Tengah, kebijakan The Fed, dan langkah Bank Indonesia dalam menstabilkan nilai tukar rupiah.
Keberhasilan bisnis ini turut berdampak pada penilaian kredit perusahaan oleh lembaga pemeringkat PEFINDO. HRTA kini mengantongi peringkat idA+ dengan prospek stabil, naik dari peringkat sebelumnya yakni idA.
“Peningkatan peringkat kredit Perseroan oleh PEFINDO menjadi idA+ mencerminkan penguatan fundamental dan disiplin keuangan Perseroan dalam menjaga struktur permodalan yang sehat di tengah ekspansi usaha yang berkelanjutan,” kata Sandra.
Pihak PEFINDO menilai kenaikan peringkat ini didasari kemampuan perusahaan dalam menjaga rasio utang dan konsistensi pertumbuhan pendapatan. Selain itu, saham HRTA kini resmi masuk ke dalam indeks bergengsi LQ45 di Bursa Efek Indonesia untuk periode Mei-Juli 2026.
“Kami memandang pencapaian ini sebagai bentuk kepercayaan pasar terhadap fundamental bisnis, likuiditas saham, serta prospek jangka panjang Perseroan sebagai salah satu pemain utama di industri emas nasional,” tutup Sandra.