PT Sompo Insurance Indonesia mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 10 persen secara tahunan menjadi Rp 135,3 miliar sepanjang tahun 2025 di Jakarta, Selasa (12/5/2026). Capaian positif ini diraih melalui kontribusi lini kendaraan, properti, dan kesehatan di tengah tantangan inflasi medis yang diprediksi terus berlanjut hingga kuartal II 2026.
Dilansir dari Money, perusahaan asuransi ini juga membukukan pertumbuhan aset sebesar 13 persen menjadi Rp 4 triliun. Adapun net written premiums atau premi neto mengalami peningkatan sebesar 12 persen hingga mencapai angka Rp 1,87 triliun pada periode yang sama.
Pertumbuhan kinerja ini ditopang oleh tiga lini bisnis utama yang menyumbang 79 persen dari total premi bruto sebesar Rp 2,7 triliun. Lini kendaraan mencatatkan premi Rp 849 miliar, diikuti sektor properti sebesar Rp 718 miliar, serta kategori kesehatan dan kecelakaan diri senilai Rp 504 miliar.
“Tahun 2025 menjadi tahun yang sukses bagi kami di tengah tantangan yang harus dihadapi oleh industri,” ujar Eric Nemitz, President Director & CEO PT Sompo Insurance Indonesia.
Penegasan mengenai fokus perusahaan terhadap perlindungan nasabah disampaikan oleh manajemen seiring dengan komitmen pembayaran klaim yang mencapai Rp 853 miliar. Angka tersebut mencerminkan kenaikan 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya dengan rata-rata pembayaran klaim sebesar Rp 2,3 miliar per hari.
“Kami tetap berkomitmen kuat untuk memenuhi kebutuhan perlindungan aset dan kesehatan para nasabah serta mitra bisnis, melalui penerapan strategi bisnis yang adaptif dan berlandaskan integritas,” lanjut Eric Nemitz, President Director & CEO PT Sompo Insurance Indonesia.
Memasuki tahun 2026, industri asuransi menghadapi tekanan inflasi medis yang dipicu oleh ketergantungan pada alat kesehatan impor serta pelemahan nilai tukar dollar AS terhadap rupiah. Kondisi ini dikhawatirkan dapat berdampak pada keterjangkauan harga premi asuransi bagi masyarakat luas.
“Kesan terburuk adalah ketika premi asuransi menjadi tidak mampu dibayar,” ujar Eric Nemitz, President Director & CEO PT Sompo Insurance Indonesia.
Mekanisme pihak ketiga independen dinilai menjadi solusi untuk mengawasi biaya layanan kesehatan agar tetap netral bagi semua pihak. Hal ini penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis asuransi kesehatan dalam jangka panjang.
“Kalau itu terjadi, kemungkinan akan memberi tekanan lebih besar pada sistem kesehatan secara keseluruhan,” lanjut Eric Nemitz, President Director & CEO PT Sompo Insurance Indonesia.
Meskipun terdapat tekanan biaya klaim, Sompo Indonesia tetap memprioritaskan kualitas premi dan profitabilitas daripada sekadar mengejar pertumbuhan pendapatan bruto secara masif.
“Kami tidak hanya fokus pada top line, tetapi juga pada apa yang benar-benar tersisa di perusahaan,” kata Eric Nemitz, President Director & CEO PT Sompo Insurance Indonesia.
Pada sektor syariah, perusahaan mencatat surplus underwriting dana tabarru’ sebesar Rp 31,9 miliar dengan tingkat RBC yang sangat kuat sebesar 572 persen. Saat ini, proses pemisahan atau spin off Unit Usaha Syariah (UUS) sedang difinalisasi sesuai regulasi Otoritas Jasa Keuangan.
“Dengan fundamental keuangan yang solid, kami optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutup Eric Nemitz, President Director & CEO PT Sompo Insurance Indonesia.