Pemanfaatan energi surya kini semakin diminati oleh berbagai sektor industri di Indonesia. Langkah ini diambil sebagai strategi konkret untuk memangkas emisi karbon sekaligus mendongkrak efisiensi energi operasional. Di tengah sorotan terhadap perubahan iklim, implementasi panel surya menjadi opsi nyata bagi korporasi dalam meminimalkan dampak lingkungan, seperti dilansir dari Suara.
Sektor industri sendiri diidentifikasi sebagai salah satu kontributor emisi gas rumah kaca yang signifikan akibat besarnya konsumsi energi dalam proses produksi. Oleh karena itu, adopsi energi terbarukan seperti tenaga surya mulai diintegrasikan ke dalam rencana keberlanjutan jangka panjang perusahaan.
Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh setiap 5 Juni menjadi penanda penting bahwa tanggung jawab penurunan emisi tidak hanya bertumpu pada regulasi pemerintah. Sektor swasta juga memegang peran vital melalui transformasi operasional yang lebih hijau.
Salah satu pelaku industri yang secara agresif memperluas pemanfaatan energi surya adalah PT Lautan Luas Tbk. Hingga tahun 2025, emiten ini tercatat telah mengoperasikan sebanyak 2.097 panel surya dengan kapasitas total mencapai 1.052 kilowatt peak (kWp) yang tersebar di beberapa anak usahanya.
Head of Investor Relations, Corporate Communications & ESG PT Lautan Luas Tbk, Eurike Hadijaya, menjelaskan bahwa transisi ke energi bersih ini merupakan bagian integral dari strategi korporasi. Tujuannya adalah untuk menekan emisi sekaligus mengoptimalkan penggunaan energi di lingkungan perusahaan.
"Di tengah tantangan perubahan iklim global, Lautan Luas terus mendorong implementasi operasional yang lebih rendah karbon melalui berbagai inisiatif energi bersih di sejumlah anak usaha. Upaya ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung efisiensi energi sekaligus mengurangi emisi secara bertahap dan berkelanjutan," kata Eurike Hadijaya.
Sejumlah pakar energi menilai bahwa panel surya merupakan solusi dekarbonisasi yang relatif mudah diadopsi oleh pelaku industri. Hal ini didukung oleh kematangan teknologi serta tren penurunan biaya instalasi dalam beberapa tahun terakhir.
Selain mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi fosil, sistem tenaga surya memberikan keuntungan finansial berupa efisiensi biaya energi jangka panjang. Fleksibilitas pemasangan secara modular juga memudahkan penyesuaian kapasitas dengan kebutuhan fasilitas pabrik.
Langkah dekarbonisasi sektor industri ini sejalan dengan target ambisius Pemerintah Indonesia untuk mencapai net zero emission pada tahun 2060 atau bahkan lebih awal. Target tersebut menuntut peningkatan porsi energi terbarukan secara masif dalam bauran energi nasional.
Penerapan Ekonomi Sirkular di Lingkungan Industri
Transformasi menuju operasional ramah lingkungan tidak hanya terbatas pada sektor energi bersih. Sejumlah perusahaan kini mulai mengadopsi prinsip ekonomi sirkular dalam aktivitas harian mereka untuk meminimalkan limbah produksi.
Pendekatan ini diwujudkan melalui implementasi konsep 4R, yaitu Reduce, Reuse, Recycle, dan Replacement. Sepanjang tahun 2025, aktivitas pengelolaan lingkungan ini berhasil memproses lebih dari 35 ton limbah padat non-B3 serta lebih dari 21 ton limbah B3.
Program pemulihan material juga dijalankan secara konsisten melalui pemanfaatan kembali ribuan drum bekas layak pakai untuk kebutuhan operasional. Langkah ini efektif memotong ketergantungan pada penggunaan material baru di lini produksi.
"Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi pengingat bahwa keberlanjutan perlu diwujudkan melalui langkah nyata dan konsisten dalam operasional perusahaan," ujar Eurike Hadijaya.
Adopsi panel surya dan teknologi bersih yang terus meluas memperlihatkan bahwa tren operasional rendah karbon akan mendominasi arah perkembangan dunia usaha di masa depan.