Neutron Holdings Inc. selaku induk perusahaan Lime resmi mendaftarkan penawaran saham perdana (IPO) kepada Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) pada Jumat (8/5/2026). Perusahaan penyewaan kendaraan listrik tersebut berencana mencatatkan sahamnya di bursa Nasdaq dengan kode emiten LIME.
Langkah korporasi ini menandai titik balik penting bagi perusahaan asal Amerika Serikat tersebut setelah lama mengisyaratkan keinginan melantai di bursa saham sejak 2021. Dilansir dari Tekno, kemitraan strategis dengan Uber menjadi salah satu keunggulan utama Lime dalam pengajuan ini.
Sinergi dengan Uber telah memberikan kontribusi sebesar 14,3 persen terhadap total pendapatan Lime. Melalui integrasi aplikasi, pengguna Uber dapat langsung menyewa skuter atau sepeda listrik Lime tanpa perlu berpindah platform, yang memberikan akses langsung ke basis pengguna masif.
| Tahun Buku | Total Pendapatan (USD) | Pertumbuhan (YoY) |
|---|---|---|
| 2023 | 521 juta | - |
| 2024 | 686,6 juta | 31,7% |
| 2025 | 886,7 juta | 29,1% |
Secara operasional, Lime telah memperluas jangkauannya ke 230 kota di 29 negara. Berdasarkan dokumen IPO, layanan mobilitas mikro ini tercatat telah melampaui satu miliar perjalanan sepanjang tahun 2025 dengan total pendapatan mencapai Rp 15,4 triliun.
Meskipun mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang konsisten, Lime dihadapkan pada tantangan profitabilitas karena belum membukukan laba bersih. Perusahaan melaporkan kerugian sebesar 59,3 juta dollar AS pada tahun 2025 dan kerugian tambahan 61,3 juta dollar AS pada kuartal pertama 2026.
Lime memberikan peringatan terbuka dalam dokumen pendaftarannya mengenai faktor risiko yang akan dihadapi oleh calon investor di masa depan. Manajemen menyoroti rekam jejak keuangan perusahaan yang masih berada dalam posisi negatif hingga saat ini.
"riwayat kerugian bersih" tulis Lime, dalam dokumen SEC.
Tekanan finansial menjadi alasan kuat di balik percepatan proses go public ini menurut laporan Engadget. Lime memiliki kewajiban utang sebesar 1 miliar dollar AS, di mana sekitar 675,8 juta dollar AS atau setara Rp 11,7 triliun akan jatuh tempo sebelum akhir tahun 2026.
Perusahaan mengakui keterbatasan likuiditas untuk melunasi kewajiban jangka pendek tersebut tanpa adanya suntikan modal dari pasar publik. Kelangsungan bisnis perusahaan disebut bergantung pada keberhasilan negosiasi utang atau pelaksanaan IPO ini.
"potensi tidak tercapainya profitabilitas di masa mendatang" tulis Lime, dalam dokumen SEC.
Jika target pendanaan melalui lantai bursa tidak tercapai, Lime menyatakan risiko ketidakmampuan untuk beroperasi sebagai entitas bisnis yang berkelanjutan. Hal ini menjadi catatan krusial bagi investor terkait prospek jangka panjang perusahaan di sektor transportasi mikro.