Rekomendasi global mengenai pemberian air susu ibu (ASI) hingga usia dua tahun masih menjadi standar utama kesehatan anak. Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa banyak ibu menghadapi kendala besar dalam mewujudkannya.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, tercatat sekitar 64,9 persen anak pada rentang usia 12 hingga 23 bulan masih menerima ASI. Dilansir dari Lifestyle, angka ini menunjukkan praktik menyusui masih berjalan meski belum sepenuhnya optimal secara kualitas.
Hambatan yang muncul bagi para ibu sangat beragam, mulai dari tuntutan pekerjaan hingga minimnya sokongan dari lingkungan sosial. Padahal, faktor eksternal sering kali menjadi penentu utama keberhasilan proses laktasi tersebut.
Keberhasilan seorang ibu dalam menyusui bukan hanya ditentukan oleh faktor internal. Konselor Menyusui dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), Lianita Prawindart, menjelaskan bahwa peran sistem pendukung sangat krusial.
"Ibu yang berhasil menyusui bukan hanya karena usahanya sendiri, tetapi juga karena adanya sistem pendukung yang kuat di sekitarnya," ujar Lianita.
Sebaliknya, hambatan yang dirasakan ibu menyusui sering kali berakar pada minimnya bantuan yang diterima. Kepercayaan diri ibu dalam melanjutkan pemberian ASI sangat bergantung pada bagaimana orang-orang terdekat memberikan respons.
Kontribusi Keluarga dan Ayah
Dalam lingkup rumah tangga, peran ayah dan anggota keluarga lainnya tidak dapat digantikan. Dukungan emosional dan bantuan dalam pekerjaan domestik harian sangat membantu memberikan waktu istirahat yang cukup bagi ibu.
"Dukungan menyusui harus dapat meningkatkan kepercayaan diri ibu dan membantu memberikan solusi saat menghadapi masalah," kata Lianita.
Tantangan bagi Ibu Bekerja
Bagi perempuan yang memiliki karier, tantangan menyusui menjadi lebih berat karena durasi cuti melahirkan di Indonesia yang masih terbatas. Hal ini memaksa banyak ibu kembali bekerja saat proses menyusui belum benar-benar stabil.
Fasilitas di tempat kerja, seperti ketiadaan ruang laktasi atau minimnya waktu untuk memerah ASI, turut memperumit situasi. Lingkungan kerja yang ramah menyusui dinilai sangat berpengaruh terhadap kesehatan jangka panjang anak.
Mengatasi Miskonsepsi di Masyarakat
Selain faktor fisik dan lingkungan, pemahaman yang salah mengenai fungsi ASI setelah bayi memulai Makanan Pendamping ASI (MPASI) juga menjadi tantangan. Muncul anggapan bahwa ASI tidak lagi diperlukan setelah bayi mulai makan.
Faktanya, ASI tetap memainkan peran vital dalam menyuplai gizi dan memperkuat daya tahan tubuh anak hingga usia dua tahun. Kekeliruan informasi ini terkadang muncul dari lingkungan sekitar hingga tenaga kesehatan yang kurang memperbarui informasi.
"Miskonsepsi ini bisa mengurangi kepercayaan diri ibu, bahkan membuat ibu merasa ASI-nya tidak cukup," ujar Lianita.
Lianita menyarankan para ibu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan kompeten atau konselor menyusui ketika menghadapi masalah. Pendekatan personal diperlukan karena setiap pasangan ibu dan bayi memiliki akar permasalahan yang berbeda.
"Permasalahan menyusui sering terlihat sama, tetapi akar masalah dan solusinya bisa berbeda. Konseling membantu menemukan solusi yang tepat," kata Lianita.
Lianita menekankan bahwa pencapaian menyusui hingga dua tahun adalah wujud kerja sama kolektif. Hal tersebut bukan sekadar perjuangan individu ibu, melainkan cerminan dari dukungan yang diberikan oleh lingkungan sekitar.