Banyak perempuan merasakan payudara menjadi nyeri, berat, atau lebih sensitif menjelang masa menstruasi. Kondisi ini sering kali menimbulkan rasa tidak nyaman dan mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti saat bergerak atau tidur tengkurap.
Meski kerap memicu kekhawatiran, rasa sakit ini umumnya normal terjadi. Dalam dunia medis, keadaan tersebut dikenal sebagai cyclical mastalgia atau mastalgia siklik, yaitu nyeri yang muncul mengikuti pola siklus haid, seperti dikutip dari Lifestyle.
Siklus bulanan menyebabkan tubuh mengalami fluktuasi hormon estrogen dan progesteron. Kedua hormon ini bertugas mempersiapkan tubuh menghadapi kemungkinan kehamilan, yang salah satu dampaknya memengaruhi jaringan payudara.
Perubahan hormon tersebut dapat memicu berbagai gejala sindrom pramenstruasi atau PMS. Selain kram perut, perubahan suasana hati, dan kembung, rasa nyeri pada payudara menjadi keluhan yang paling sering muncul.
“Perubahan hormon ini dapat menyebabkan berbagai sensasi yang secara keseluruhan disebut sindrom pramenstruasi atau PMS,” kata Dr. Larissa Hirsch selaku dokter anak sekaligus editor medis di Kids Health, seperti dikutip Modibodi, Senin (18/5/2026).
Dampak Retensi Cairan dan Sensitivitas Saraf
Alasan lain di balik rasa sakit ini adalah kecenderungan tubuh menahan lebih banyak cairan akibat pengaruh hormon menjelang menstruasi. Retensi air ini tidak hanya membuat perut kembung, tetapi juga menyasar jaringan pada payudara.
“Tubuh dapat menahan cairan, yang membuat seseorang merasa bengkak dan kembung,” ujar Dr. Hirsch.
Penumpukan cairan di jaringan payudara memicu pembengkakan ringan yang menekan ujung saraf di sekitarnya. Kondisi tersebut memunculkan rasa nyeri, sensitif, atau sensasi seperti tertarik, sehingga payudara terasa lebih penuh dan berat.
Lonjakan kadar hormon juga membuat jaringan kelenjar susu bereaksi dan menjadi lebih sensitif terhadap sentuhan. Akibatnya, tekanan ringan dari bra, sabuk pengaman, atau posisi tidur tertentu bisa memicu ketidaknyamanan.
Faktor Pembeda dan Gejala yang Harus Diwaspadai
Intensitas rasa sakit yang dirasakan setiap perempuan tidak sama. Beberapa orang hanya merasakan sensasi penuh yang ringan, sementara yang lain mengalami nyeri kuat hingga mengganggu aktivitas harian.
Perbedaan tingkat keparahan ini dipengaruhi oleh pola makan, konsumsi kafein, tingkat stres, kurang tidur, serta penggunaan kontrasepsi hormonal. Stres dapat memperburuk gejala karena meningkatkan ketegangan tubuh secara keseluruhan.
Meskipun umumnya normal dan membaik setelah menstruasi dimulai, ada beberapa kondisi spesifik yang perlu diwaspadai. Pemeriksaan medis ke dokter sangat disarankan jika nyeri terjadi hanya pada satu sisi atau tidak berkaitan dengan siklus haid.
Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan jika nyeri disertai munculnya benjolan, keluarnya cairan dari puting, berlangsung terus-menerus, atau semakin parah dari bulan ke bulan.