Seorang perempuan asal Prancis bernama Clélia Verdier (19) mengalami trauma mendalam setelah terbangun dari koma selama tiga minggu dengan ingatan palsu telah hidup sebagai ibu selama tujuh tahun. Fenomena disosiasi pasca-koma ini menunjukkan kemampuan otak membangun narasi realitas yang sangat kuat saat kesadaran manusia terganggu, sebagaimana dilansir dari Detik Health.
Kondisi medis tersebut membuktikan bahwa otak tetap aktif memproses rangsangan dari lingkungan sekitar meskipun individu berada dalam status koma. Informasi yang diterima sering kali terdistorsi sehingga menghasilkan pengalaman subjektif yang sangat berbeda dari kenyataan fisik di dunia nyata.
Direktur perawatan neurokritis di Mount Sinai Health System, Stephan Mayer, memberikan gambaran mengenai cara kerja organ tersebut saat pasien tidak sadarkan diri. Gangguan fungsi menyebabkan otak sulit merangkai data yang masuk secara sempurna.
"Ini seperti televisi tua yang penuh statik. Gambar hanya muncul sesekali lalu hilang lagi. Otak kemudian mencoba merangkai potongan-potongan informasi yang acak itu menjadi sebuah cerita yang logis," jelas Mayer.
Ia menambahkan bahwa sistem saraf cenderung melakukan konfabulasi atau mengisi celah kosong untuk menjaga konsistensi narasi individu. Sentuhan perawat atau suara di sekitar tempat tidur pasien sering kali diterjemahkan oleh otak menjadi interaksi yang sesuai dengan alur cerita imajiner tersebut.
"Ini seperti televisi tua yang penuh statik. Gambar hanya muncul sesekali lalu hilang lagi. Otak kemudian mencoba merangkai potongan-potongan informasi yang acak itu menjadi sebuah cerita yang logis," jelas Mayer.
Studi dalam jurnal Psychology Today menyebutkan bahwa otak mampu mengaktifkan korteks sensorik dan emosional saat seseorang berada dalam status kesadaran yang berubah. Hal ini membuat pengalaman dalam koma, seperti rasa sakit saat melahirkan atau kehangatan emosional, terasa nyata bagi sistem saraf penyintasnya.
Fenomena distorsi waktu ini juga dialami oleh penyintas lain, termasuk Claire Wineland yang merasa melakukan perjalanan ke Alaska dan Caroline Leavitt yang terjebak di kota imajiner. Ilmuwan menilai semakin lama periode koma, narasi yang diciptakan otak akan menjadi semakin kompleks dan sulit diterima sebagai ilusi saat pasien telah terbangun.