Mengapa Otak Ingat Momen Memalukan Masa Lalu? Ini Penjelasan Psikologisnya

Mengapa Otak Ingat Momen Memalukan Masa Lalu? Ini Penjelasan Psikologisnya

Banyak orang kerap tiba-tiba mengingat kembali momen memalukan masa sekolah saat sedang bersiap untuk tidur di malam hari. Ingatan tersebut sering kali memicu rasa tidak nyaman hingga membuat seseorang bergidik atau merasa malu pada diri sendiri.

Fenomena psikologis tersebut rupanya merupakan hal yang normal terjadi pada manusia. Dilansir dari Detik Health, para ahli psikologi memiliki penjelasan ilmiah tersendiri mengenai alasan di balik munculnya ingatan berulang tersebut.

Para pakar menggunakan istilah "perseverative thinking" untuk menggambarkan kondisi pola pikir berulang yang berputar pada hal-hal pemicu stres serta sulit dikendalikan. Pola pikir ini mencakup kebiasaan merenungkan masa lalu, kecemasan akan masa depan, hingga proses evaluasi diri yang dilakukan secara terus-menerus.

Sebuah ulasan tahun 2025 yang terbit dalam Dialogues in Clinical Neuroscience memaparkan proses ini. Para ahli saraf menjelaskan bahwa fenomena tersebut muncul akibat adanya interaksi yang tidak berfungsi dengan baik di antara beberapa sistem psikologis pengatur diri.

Pikiran manusia secara alami memang menghabiskan banyak waktu untuk terlepas dari realitas yang sedang dihadapi saat ini. Manusia sering kali mengunjungi kembali masa lalu atau membayangkan skenario masa depan ketika sedang berjalan, mandi, hingga duduk bekerja.

Kemampuan mental ini sebenarnya memiliki manfaat psikologis karena dapat membantu seseorang dalam merencanakan masa depan, memecahkan masalah, dan membangun identitas diri. Namun, persoalan akan muncul ketika pikiran menganggap ingatan yang mengganggu tersebut sebagai sebuah ancaman yang belum selesai.

Dampak Pemantauan Kesenjangan oleh Otak

Kondisi "perseverative thinking" ini salah satunya dipicu oleh proses yang disebut peneliti sebagai "discrepancy monitoring". Istilah ini merujuk pada kecenderungan otak manusia yang terus membandingkan situasi nyata dengan apa yang seharusnya terjadi.

Hal inilah yang menyebabkan kenangan memalukan terasa sangat melekat di dalam ingatan seseorang. Otak secara otomatis menandai kesalahan sosial masa lalu sebagai sebuah urusan yang belum selesai dan terus menariknya kembali ke kesadaran untuk diperbaiki.

Akan tetapi, latihan mental yang terjadi berulang kali ini justru memperkuat ingatan negatif tersebut alih-alih menyelesaikannya. Para peneliti menyebutkan bahwa proses berpikir ini lambat laun dapat mengubah cara pandang seseorang terhadap diri sendiri serta lingkungan sekitarnya.

Saat ingatan buruk tertentu terus dipanggil kembali secara berulang, kenangan itu menjadi semakin mudah diakses oleh otak seiring berjalannya waktu. Dampaknya, ancaman sosial dirasa menjadi lebih sering terjadi, terasa lebih penting, dan memicu ketakutan akan penolakan yang lebih besar dari kenyataan sebenarnya.

Artikel terkait

Rekomendasi