Mengenal Apa Itu Gaslighting dan Bahayanya Bagi Kesehatan Mental Korban

Mengenal Apa Itu Gaslighting dan Bahayanya Bagi Kesehatan Mental Korban

Dugaan perilaku gaslighting belakangan ini menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah sebuah potongan video perlombaan cerdas cermat viral. Peristiwa tersebut memicu diskusi publik mengenai batasan antara kritik dan manipulasi mental dalam interaksi sosial.

Dilansir dari Detik Health, istilah gaslighting merujuk pada bentuk spesifik dari pelecehan emosional yang sangat sistematis. Perilaku ini bertujuan mengganggu kemampuan seseorang untuk mempercayai orang lain serta persepsi mereka terhadap diri sendiri.

Psikolog Chivonna Childs menjelaskan bahwa gaslighting merupakan teknik manipulasi emosional. Tujuannya adalah membuat seseorang merasa seolah-olah perasaannya tidak valid atau meyakini bahwa kejadian yang mereka alami sebenarnya tidak pernah terjadi.

Dikutip dari Cleveland Clinic, gaslighting bukan sekadar perilaku buruk biasa seperti berbohong atau mempermalukan orang lain. Ini adalah strategi yang mengaburkan realitas korban secara perlahan dan konsisten.

"Gaslighting adalah bentuk manipulasi emosional untuk membuat merasa seolah-olah perasaan tidak valid, atau bahwa apa yang dipikir sedang terjadi sebenarnya tidak terjadi," jelas psikolog Chivonna Childs.

Dampak jangka panjang dari tindakan ini sangat merusak fondasi psikologis seseorang. Seiring berjalannya waktu, individu yang menjadi target akan mulai meragukan harga diri, kepercayaan diri, hingga kapasitas mental mereka sendiri.

"Seiring waktu, mulai mempertanyakan harga diri, kepercayaan diri, dan kemampuan mental," sambung Chivonna Childs.

Dampak Fatal bagi Kondisi Psikologis Korban

Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi menyebutkan bahwa manipulasi psikologis ini memiliki konsekuensi serius bagi kesehatan mental. Dampak utamanya meliputi hilangnya kepercayaan diri secara drastis, peningkatan kecemasan, serta penurunan suasana hati atau mood.

"Pertama kurangnya percaya diri, korban gaslighting ini akan merasa tidak yakin dengan dia punya pemikiran dan perasaannya. Karena seringkali dimanipulasi atau dibolak-balik oleh lawan bicaranya," kata Anastasia saat dihubungi detikcom, Rabu (13/5/2026).

Kondisi ini membuat korban merasa ragu terhadap nilai-nilai yang mereka pegang selama ini. Anastasia menjelaskan bahwa korban sering merasa bingung karena respons yang mereka terima tidak sesuai dengan kewajaran sosial atau apa yang telah mereka pelajari.

"Dia menjadi kurang percaya diri dengan value yang dia punya, karena setelah melakukan sesuatu yang benar atau yang baik, belum tentu responsnya seperti yang dia pelajari. Hal baik berbuah baik," sambungnya.

Selain krisis kepercayaan diri, kecemasan yang meningkat menjadi ancaman nyata lainnya. Korban akan terus-menerus merasa khawatir mengenai bagaimana orang lain menilai mereka atau apakah perkataan mereka dapat dipahami dengan benar.

"Karena dia menjadi khawatir orang lain akan memahami atau tidak dengan yang kumaksud. Orang lain akan berpikir apa tentang aku? Orang lain akan merasa atau menilai aku cukup baik atau tidak? Jangan-jangan aku dinilai salah?" katanya.

Rasa cemas ini sering kali berujung pada pikiran yang berlebihan atau overthinking. Anastasia memperingatkan bahwa jika tidak ditangani, kondisi ini bisa merosot menjadi perasaan sedih yang mendalam hingga depresi klinis.

"Jangan-jangan aku dinilai berlebihan mungkin, atau aku dinilai yang tidak baik. Jadi intinya mengarah ke sana. Jadi gaslighting membuat diri korban cemas," sambungnya.

Ketidakmampuan untuk melawan pikiran negatif tersebut membuat korban merasa tidak berdaya dan kehilangan harapan akan masa depan yang baik. Perasaan selalu salah dan tidak kompeten menjadi beban mental yang sangat berat.

"Jadi pada korban gaslighting biasanya ada yang juga kondisi di mana dia tidak mampu untuk berperang dengan pikiran overthinking, cemasnya, dan turunnya kepercayaan dirinya," katanya.

Mengenali Pola Perilaku Pelaku

Meskipun pengalaman setiap orang berbeda, terdapat beberapa pola perilaku yang umum ditunjukkan oleh pelaku gaslighting. Hal ini sering diawali dengan tindakan menuduh, menyalahkan, hingga menyangkal kesalahan meskipun buktinya nyata.

"Lalu mengarah ke sensasi sedih yang mendalam atau depresi. Merasa tidak dipahami, merasa selalu salah, merasa aku tidak capable, merasa aku tidak ada masa depan baik," sambungnya.

Beberapa tindakan lain yang patut diwaspadai meliputi sikap mengalihkan argumen, membuat korban merasa bersalah tanpa alasan yang jelas, serta meremehkan perasaan korban secara terus-menerus. Pelaku juga cenderung mempertanyakan penilaian mental korban untuk memperkuat kontrol mereka.

  • Menuduh dan menyalahkan
  • Mengalihkan atau membantah argumen
  • Menyangkal kesalahan pribadi
  • Tidak setuju dengan versi kejadian orang lain
  • Mempermalukan dan meremehkan
  • Mempertanyakan penilaian dan mengabaikan perasaan

Artikel terkait

Rekomendasi