Aksi pembawa acara atau master of ceremony (MC) dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat, Shindy Lutfiana, mendadak menjadi sorotan netizen. Insiden ini bermula dari pernyataannya kepada siswa SMAN 1 Pontianak yang dinilai melakukan praktik gaslighting saat perlombaan berlangsung.
Video kejadian tersebut viral di berbagai platform media sosial dan memicu kritik tajam terhadap penyelenggara. Dilansir dari Detik Health, Shindy dikabarkan telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas tindakan tersebut setelah netizen ramai-ramai melabelinya sebagai sosok yang manipulatif terhadap peserta.
Pengguna media sosial X, salah satunya akun @Dzy***, memberikan komentar pedas dengan menyebut MC tersebut sebagai duta artikulasi dan gaslighting. Netizen lain juga menyoroti sikap juri yang dianggap anti-kritik dan justru menyalahkan peserta dengan alasan artikulasi yang tidak jelas.
Meskipun istilah ini sering digunakan di dunia maya untuk menggambarkan perilaku buruk seperti berbohong atau mempermalukan orang lain, gaslighting memiliki makna yang lebih mendalam secara psikologis. Fenomena ini merupakan bentuk spesifik dari pelecehan emosional.
Dikutip dari Detik Health melalui Cleveland Clinic, gaslighting adalah bentuk manipulasi mental yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mempercayai orang lain maupun dirinya sendiri. Psikolog Chivonna Childs menjelaskan bahwa praktik ini bertujuan membuat korban merasa perasaannya tidak valid.
"Gaslighting adalah bentuk manipulasi emosional untuk membuat merasa seolah-olah perasaan tidak valid, atau bahwa apa yang dipikir sedang terjadi sebenarnya tidak terjadi," jelas psikolog Chivonna Childs.
Chivonna menambahkan bahwa efek dari perilaku ini sangat berbahaya bagi kesehatan mental jangka panjang. Seiring berjalannya waktu, korban akan mulai mempertanyakan harga diri, kepercayaan diri, hingga kemampuan mental mereka sendiri akibat manipulasi yang terus-menerus.
Pola Perilaku dan Tanda-Tanda Gaslighting
Gaslighting tidak terjadi melalui satu kejadian tunggal, melainkan melalui pola perilaku yang konsisten dilakukan oleh pelaku untuk mengontrol korbannya. Ada berbagai tindakan yang masuk dalam kategori manipulasi ini, mulai dari penyangkalan hingga intimidasi verbal.
Berdasarkan data yang dihimpun, berikut adalah daftar pola perilaku yang umum ditemukan dalam tindakan gaslighting:
- Menuduh dan menyalahkan korban secara tidak berdasar.
- Mengalihkan pembicaraan atau membantah argumen secara langsung.
- Menyangkal kesalahan meskipun terdapat bukti yang jelas.
- Tidak menyetujui versi kejadian yang disampaikan oleh orang lain.
- Sengaja membuat orang lain merasa bersalah atas situasi tertentu.
- Mempermalukan, meremehkan, dan mempertanyakan penilaian korban.
- Berbohong secara konsisten untuk menutupi fakta.
- Menganggap remeh atau mengabaikan perasaan orang lain.
Keberanian peserta LCC dalam membela haknya di depan umum mendapatkan apresiasi dari publik. Hal ini dinilai sebagai langkah penting dalam menghadapi upaya manipulasi mental yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki otoritas dalam sebuah acara resmi.