Bayi yang baru lahir dibekali dengan gerakan spontan yang dikenal sebagai refleks primitif atau perkembangan. Seperti dilansir dari Medcom, gerakan tersebut merupakan bentuk insting alami untuk bertahan hidup yang dikendalikan langsung oleh sistem saraf pusat.
Respons otomatis ini kerap muncul secara spontan atau saat menerima stimulus tertentu. Rangsangan tersebut bisa berupa suara yang kencang, gerakan mendadak, hingga sentuhan pada area pipi dan tangan.
Orang tua tidak perlu melakukan tindakan khusus untuk memicu munculnya gerakan alami ini. Pemeriksaan secara mandiri di rumah juga terkadang sulit dilakukan, bahkan oleh tenaga profesional sekalipun.
“Jangan panik jika kamu tidak dapat memicu refleks bayi baru lahir di rumah,” kata Liz Donner, M.D., seorang dokter spesialis anak di rumah sakit dan anggota Dewan Penasihat Medis BabyCenter.
“Bahkan dokter yang terampil mungkin kesulitan memicu setiap refleks. Cukup bahas hal ini pada pemeriksaan berikutnya agar dokter anak kamu dapat melakukan pemeriksaan menyeluruh dan mengajukan pertanyaan relevan sebelum memberikan jaminan atau memutuskan untuk melakukan tes lebih lanjut,” tambahnya.
Orang tua disarankan berkonsultasi dengan dokter jika bayi tidak menunjukkan salah satu refleks. Kondisi lain yang perlu diperiksa adalah ketika refleks hanya muncul pada satu sisi tubuh atau kekuatannya tidak seimbang.
Pemeriksaan medis juga diperlukan apabila gerakan instingtif ini tidak kunjung hilang pada usia yang seharusnya. Hal tersebut penting diwaspadai karena dapat menjadi indikasi adanya gangguan pada otak atau sistem saraf.
Sebagian besar gerakan alami ini akan lenyap seiring berjalannya tahun pertama kehidupan anak. Kendati demikian, beberapa jenis respons tetap bertahan hingga manusia menginjak usia dewasa.
Beberapa contoh respons yang terus terbawa hingga dewasa meliputi berkedip, batuk, dan muntah. Selain itu, aktivitas refleks seperti bersin serta menguap juga akan tetap aktif terhadap berbagai stimulasi.
Respons otomatis ini berfungsi membantu bayi baru lahir dalam menemukan sumber makanan, baik berupa puting ibu maupun dot. Gerakan ini akan aktif ketika area bibir, pipi, atau sudut mulut tersentuh.
Saat stimulasi terjadi, bayi bakal mengarahkan kepala menuju arah sentuhan dengan mulut terbuka. Selain tampak menggemaskan, gerakan membuka mulut dan mengisap ini menjadi sinyal bahwa bayi sedang merasa lapar.
Insting mencari sumber makanan ini sudah dimiliki oleh anak sejak mereka dilahirkan. Pola perilaku alami tersebut umumnya akan bertahan hingga anak menginjak usia sekitar 4 bulan.
Refleks Moro atau Kaget
Sentuhan mendadak atau suara yang bising dapat memicu reaksi kaget pada bayi. Saat respons ini aktif, bayi akan melengkungkan punggungnya dan merentangkan kedua tangan serta kaki.
Anak juga kerap menangis saat refleks ini terjadi, sebelum akhirnya menarik kembali anggota tubuhnya ke arah dada. Reaksi ini bisa timbul ketika posisi kepala bayi berubah secara cepat atau terjatuh ke belakang secara tiba-tiba.
Perkembangan insting ini sebenarnya sudah dimulai sejak bayi berada di dalam kandungan, tepatnya pada usia kehamilan 32 minggu. Kekuatan respons ini mencapai puncaknya pada bulan pertama setelah lahir.
Pada umumnya, reaksi kaget ini akan memudar dan menghilang ketika bayi menginjak usia sekitar 2 bulan. Namun, pada beberapa kasus anak, gerakan ini masih bisa bertahan hingga usia 3 sampai 4 bulan.
Refleks Babinski
Jenis respons perkembangan berikutnya dikenal dengan nama refleks Babinski yang diaktifkan melalui sentuhan pada telapak kaki. Ketika bagian bawah kaki disentuh, jempol kaki bayi akan menekuk ke arah atas.
Pada saat yang sama, jari-jari kaki lainnya akan meregang dan melebar. Gerakan yang juga kerap disebut sebagai refleks plantar ini dinamai berdasarkan penemunya, Joseph Babinski.
Joseph Babinski merupakan seorang ahli saraf asal Prancis yang pertama kali memberikan penjelasan mengenai fenomena ini pada akhir abad ke-19. Respons fisiologis Babinski biasanya akan menetap hingga anak berusia 12 bulan atau maksimal sampai 2 tahun.