Kebiasaan bersantai sambil menggulir media sosial atau menonton video di ponsel hingga larut malam kini menjadi rutinitas bagi jutaan orang. Namun, kenyamanan tersebut menyimpan ancaman kesehatan serius yang dikenal dengan istilah tech neck.
Dilansir dari Tekno, tech neck merupakan sindrom nyeri leher yang muncul akibat tekanan berlebih pada tulang belakang bagian atas. Kondisi ini dipicu oleh posisi kepala yang menunduk atau miring terlalu lama saat menatap layar perangkat teknologi.
Otot-otot leher bekerja jauh lebih keras dari kondisi normal ketika seseorang menopang kepala dalam posisi miring saat menggunakan ponsel. Jika terus dibiarkan, kebiasaan ini berisiko memicu nyeri kronis, kekakuan otot, hingga perubahan kelengkungan tulang belakang.
Tech neck juga sering disebut sebagai text neck, cell phone neck, gamer neck, hingga turtle neck syndrome. Kondisi ini terjadi akibat stres berulang dari postur tubuh yang salah saat mengoperasikan tablet atau ponsel dalam durasi panjang.
Dr. Sangjin Lim, dokter spesialis kedokteran olahraga dari Crystal Run Healthcare, menjelaskan perbandingan beban yang diterima leher. Saat posisi kepala tegak dan netral, otot leher hanya menanggung beban sekitar empat hingga lima kilogram.
Namun, beban tersebut melonjak hingga 27 kilogram ketika kepala mulai menunduk untuk menatap layar. Tekanan yang meningkat hampir enam kali lipat ini membuat otot, tendon, dan ligamen bekerja melampaui kapasitas wajarnya.
Risiko kerusakan akan semakin besar seiring dengan frekuensi dan durasi seseorang berada dalam posisi menunduk tersebut. Fenomena ini kini tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga banyak ditemukan pada anak-anak usia sekolah.
Gejala dan Komplikasi yang Perlu Diwaspadai
Dampak tech neck tidak hanya menyerang area leher, tetapi juga menyebabkan sakit kepala akibat kejang otot dan kelelahan mata. Nyeri punggung bagian atas juga menjadi keluhan umum karena otot trapezius menanggung beban berlebih.
Postur bahu yang terus-menerus membulat ke depan juga dapat mengakibatkan kelemahan otot di area tersebut. Jika tidak segera diperbaiki, kondisi ini dapat berkembang menjadi komplikasi medis yang jauh lebih berat.
Dr. Lim menjelaskan bahwa tekanan terus-menerus tanpa penanganan tepat dapat memicu nyeri sendi kronis, saraf terjepit, hingga arthritis dini pada tulang belakang leher. Saraf yang terjepit ini berpotensi menyebabkan mati rasa dan kesemutan pada lengan.
Komplikasi lainnya adalah upper crossed syndrome, yaitu ketidakseimbangan otot akibat otot punggung atas dan dada yang terlalu tegang. Sebaliknya, otot leher depan dan punggung tengah justru mengalami pelemahan yang berdampak pada postur tubuh secara keseluruhan.