Sejumlah gerai minuman kekinian di Jakarta mulai menerapkan sistem pelabelan Nutri Level pada produk mereka guna memberikan transparansi informasi kandungan gula kepada konsumen. Namun, implementasi kebijakan ini menunjukkan hasil yang mengejutkan bagi para pelanggan yang terbiasa memilih opsi tanpa pemanis tambahan.
Beberapa produk minuman yang memiliki label 'no sugar' ternyata tetap masuk dalam kategori peringkat C hingga D dalam sistem Nutri Level tersebut. Berdasarkan data yang dilansir dari Detik Health, tingkatan ini mengindikasikan bahwa minuman tersebut berada pada kelompok kasta yang paling tidak sehat dalam standar pelabelan nutrisi.
Fenomena ini memicu perhatian karena selama ini varian 'no sugar' maupun 'less sugar' kerap dianggap sebagai pilihan yang jauh lebih sehat oleh masyarakat luas dibandingkan versi gula normal. Penerapan rating ini membuktikan bahwa ketiadaan gula tambahan tidak secara otomatis membuat sebuah minuman masuk ke dalam kategori sehat atau peringkat tinggi A dan B.
Sistem Nutri Level dirancang untuk memetakan kualitas nutrisi produk minuman secara lebih mendalam daripada sekadar melihat variabel gula pasir. Terdapat faktor-faktor lain terkait komposisi bahan yang memengaruhi penetapan rating C dan D pada produk-produk yang diklaim tanpa gula tersebut.
Pemahaman mendalam mengenai detail pelabelan gula menjadi sangat krusial bagi konsumen dalam menentukan asupan nutrisi harian mereka. Melalui infografis dan data pelabelan terbaru, masyarakat kini didorong untuk lebih jeli melihat profil nutrisi lengkap yang tertera pada kemasan minuman yang mereka konsumsi di gerai-gerai populer.