PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel kini menitikberatkan strategi kolokasi menara guna mempertahankan tren pertumbuhan laba bersih di tengah fase matang industri infrastruktur telekomunikasi. Langkah ini diambil sebagai respons atas terbatasnya ruang ekspansi organik saat ini.
Peningkatan tenancy ratio atau rasio penyewaan menjadi pendorong utama efisiensi perusahaan yang sekaligus membuka peluang perolehan pendapatan tambahan dengan margin keuntungan yang lebih tinggi. Strategi ini dinilai lebih efektif dibanding pembangunan menara baru secara agresif.
Berdasarkan laporan perseroan yang dikutip dari Market, tenancy ratio Mitratel mencatatkan kenaikan menjadi 1,57 kali pada kuartal I/2026. Pertumbuhan ini dipicu oleh peningkatan unit kolokasi sebesar 11,3% secara tahunan yang mencapai angka 23.006 unit.
Kenaikan rasio penyewaan tersebut menjadi indikator krusial saat industri menara mulai memasuki tahap konsolidasi. Para operator kini cenderung mengoptimalkan pemanfaatan aset yang sudah ada guna menjaga stabilitas profitabilitas perusahaan.
Aqil Triyadi, Analis Panin Sekuritas, menilai bahwa fokus pada kolokasi memberikan kualitas pertumbuhan yang lebih sehat bagi penyedia menara. Penambahan penyewa pada satu lokasi dapat meningkatkan pemasukan tanpa memicu lonjakan biaya operasional yang besar.
"Untuk perusahaan menara yang sudah mature, kuncinya bukan lagi semata-mata menambah jumlah tower secara agresif, tetapi bagaimana aset yang sudah ada bisa menghasilkan pendapatan lebih besar. Ketika tenancy ratio naik, incremental revenue dari tenant tambahan biasanya memiliki margin yang lebih tinggi," ujar Aqil.
Potensi pertumbuhan rasio penyewaan diprediksi masih terbuka lebar seiring dengan perluasan layanan fixed wireless access (FWA) melalui inisiatif program Internet Rakyat. Hal ini menjadi peluang baru bagi emiten berkode saham MTEL tersebut.
Dukungan Jaringan FWA dan Ekspansi Luar Jawa
Operator FWA seperti MyRepublic dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) memerlukan percepatan pembangunan jaringan yang efisien. Menyewa menara yang sudah tersedia dianggap lebih praktis dan murah dibandingkan membangun infrastruktur dari awal.
"Kolaborasi antara penyedia menara dan ekosistem FWA hanya soal waktu karena mereka butuh akselerasi dengan biaya yang lebih murah," kata Aqil.
Mitratel memiliki keunggulan kompetitif dalam menangkap peluang ekspansi ini karena memiliki portofolio yang luas. Tercatat lebih dari 59% menara milik perseroan berada di luar Pulau Jawa, termasuk di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Hingga akhir Maret 2026, total menara yang dikelola MTEL mencapai 40.327 unit atau tumbuh sekitar 1,9% secara tahunan. Meski pertumbuhan jumlah fisik menara melambat, penguatan kolokasi menjadi mesin utama pertumbuhan pendapatan dan laba bersih.
Secara finansial, MTEL membukukan pendapatan senilai Rp2,29 triliun pada kuartal I/2026, naik 1,4% secara tahunan. Laba bersih perusahaan melonjak lebih tinggi sebesar 3,6% menjadi Rp545 miliar dengan margin EBITDA yang terjaga kuat pada level 82,7%.
Selain fokus pada bisnis menara, perusahaan juga terus memperkuat infrastruktur jaringan fiber optic. Hingga periode tersebut, panjang kabel fiber optic tumbuh 17,3% menjadi 72.842 kilometer billable length guna mendukung permintaan kapasitas data dan pengembangan layanan 5G.