PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel fokus mengandalkan strategi kolokasi untuk memacu efisiensi dan profitabilitas di tengah kondisi industri menara telekomunikasi yang mulai matang pada kuartal I-2026. Langkah ini tecermin dari kenaikan tenancy ratio perseroan yang kini mencapai posisi 1,57 kali.
Pertumbuhan kolokasi tercatat sebesar 11,3 persen secara tahunan menjadi 23.006 unit per Maret 2026, sebagaimana dilansir dari Money. Peningkatan rasio penyewaan ini didorong oleh ekspansi operator seluler ke wilayah luar Pulau Jawa, di mana Mitratel menguasai lebih dari 59 persen portofolio menara di area tersebut.
Analis Panin Sekuritas, Aqil Triyadi, menilai kenaikan tenancy ratio merupakan katalis positif bagi fundamental perusahaan. Menurutnya, pertumbuhan dari kolokasi memiliki kualitas pendapatan yang lebih baik karena tidak mengubah struktur biaya operasional secara signifikan bagi pemilik aset menara.
“Untuk perusahaan menara yang sudah mature, kuncinya bukan lagi semata-mata menambah jumlah tower secara agresif, tetapi bagaimana aset yang sudah ada bisa menghasilkan pendapatan lebih besar. Ketika tenancy ratio naik, incremental revenue dari tenant tambahan biasanya memiliki margin yang lebih tinggi,” ujar Aqil, Jumat (8/5/2026).
Aqil memprediksi rasio penyewaan Mitratel akan terus menanjak seiring dengan berjalannya program Internet Rakyat berbasis Fixed Wireless Access (FWA). Kehadiran teknologi ini memerlukan dukungan infrastruktur menara untuk menyalurkan sinyal internet ke rumah-rumah pelanggan secara stabil.
Dua operator internet, MyRepublic dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), dinilai memiliki target ekspansi yang sangat agresif. Aqil berpendapat bahwa kebutuhan infrastruktur bagi kedua operator tersebut akan lebih efisien jika dipenuhi melalui skema kolaborasi penyewaan aset yang sudah tersedia.
“Karena itu, opsi menyewa menara eksisting, termasuk milik MTEL, menjadi pilihan yang lebih efisien. Kolaborasi antara penyedia menara dan ekosistem FWA hanya soal waktu karena mereka butuh akselerasi dengan biaya yang lebih murah,” ujar Aqil.
| Indikator Keuangan | Nilai (Q1-2026) | Pertumbuhan (YoY) |
|---|---|---|
| Pendapatan | Rp 2,29 Triliun | 1,4% |
| Laba Bersih | Rp 545 Miliar | 3,6% |
| EBITDA Margin | 82,7% | Tetap Kuat |
Secara operasional, Mitratel kini mengelola total 40.327 menara atau tumbuh 1,9 persen secara tahunan. Selain fokus pada bisnis menara, anak usaha Telkom ini juga mencatatkan pertumbuhan jaringan fiber optic sebesar 17,3 persen menjadi 72.842 km billable length guna mendukung layanan 5G.
Hingga akhir Maret 2026, perseroan membukukan arus kas neto dari aktivitas operasi sebesar Rp 4 triliun. Total aset MTEL tercatat berada di angka Rp 60,56 triliun dengan posisi ekuitas mencapai Rp 33,66 triliun dan kas setara kas sebesar Rp 2,84 triliun.