Investor asing kelas kakap Morgan Stanley memborong sebanyak 179.137.756 lembar saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) pada Jumat (29/5/2026) saat harga sedang melemah. Berdasarkan keterbukaan informasi yang dilansir dari Investasi pada Rabu (3/6/2026), aksi korporasi tersebut dilakukan dengan harga pelaksanaan Rp1.151 per saham.
Nilai total transaksi pembelian saham dari jaringan ritel modern Alfamart tersebut mencapai sekitar Rp206 miliar. Melalui transaksi ini, kepemilikan langsung Morgan Stanley di dalam AMRT melonjak menjadi 3.827.302.196 lembar saham, dari posisi sebelumnya yang tercatat sebesar 3.649.457.440 lembar saham.
Meski melakukan pembelian dalam jumlah besar, Morgan Stanley terpantau langsung melepas kembali sebanyak 1.293.000 lembar saham AMRT pada hari yang sama. Penjualan saham tersebut dieksekusi dengan harga Rp1.346 per saham, sehingga nilai transaksi divestasi jangka pendek ini mencapai kisaran Rp1,74 miliar.
Pihak manajemen AMRT menjelaskan bahwa aktivitas perdagangan saham oleh investor institusi global tersebut murni ditujukan untuk investasi jangka panjang dengan status kepemilikan saham secara langsung. Peningkatan porsi kepemilikan ini menegaskan pandangan positif Morgan Stanley terhadap prospek bisnis AMRT sebagai salah satu pemimpin pasar sektor ritel modern di Indonesia.
Secara fundamental, emiten ritel ini mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang solid sepanjang kuartal I-2026. Laporan keuangan perseroan menunjukkan angka penjualan bersih AMRT sukses menembus Rp35,24 triliun pada tiga bulan pertama tahun ini, atau tumbuh sebesar 7,53 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang bernilai Rp32,77 triliun.
Kenaikan omzet tersebut secara langsung mendorong perolehan laba bersih perusahaan. Sepanjang kuartal I-2026, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk bertumbuh 10,29 persen menjadi Rp1,07 triliun, dari pencapaian tahun sebelumnya yang sebesar Rp975,11 miliar. Tren pertumbuhan positif di tengah tekanan daya beli masyarakat ini menjadi indikator penting yang terus dipantau oleh para pelaku pasar modal sepanjang tahun 2026.