PT MRT Jakarta (Perseroda) merencanakan perpanjangan rute transportasi kereta hingga ke wilayah Bekasi dan Tangerang demi memfasilitasi mobilitas masyarakat pinggiran yang menuju ke wilayah ibu kota, dilansir dari Detik Finance pada Rabu (3/6/2026).
Langkah strategis ini diambil guna mengatasi persoalan kepadatan lalu lintas di Jakarta yang kerap dipicu oleh pergerakan kendaraan dari kota-kota penyangga di sekitarnya.
"MRT sebetulnya satu pihak operator yang ingin membantu pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk bisa melakukan connecting transportasi ini tidak hanya berhenti di dalam wilayah Jakarta tapi juga bisa ke luar. Kenapa? Karena kemacetan yang ada di Jakarta juga disumbang oleh wilayah penyangga," kata Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat, Rabu (3/6/2026).
Perluasan akses ini diintegrasikan ke dalam proyek MRT lintas Timur-Barat yang membentang sepanjang 84 kilometer dari Balaraja hingga Cikarang dengan kelengkapan 48 stasiun dan 3 depo baru.
Pembangunan infrastruktur transportasi massal tersebut telah resmi ditetapkan sebagai bagian dari daftar proyek strategis nasional (PSN) yang diatur melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 12 Tahun 2025.
"Dari Cikarang sampai dengan Balaraja kurang lebih sekitar 84 km. Pelanggan per harinya kita perkirakan, ini lagi-lagi sesuai dengan kondisi pada saat awal kajian, itu ada sekitar 600.000," terangnya.
Realisasi mega proyek ini dijadwalkan berjalan bertahap, dimulai dari pembangunan fase 1 tahap 1 yang menghubungkan Tomang menuju Medan Satria beserta penyediaan Depo MRT di Rorotan.
Selanjutnya, pengerjaan bergeser ke fase 1 tahap 2 dari Tomang ke Kembangan, sebelum akhirnya dilanjutkan dengan fase 2 yang melingkupi jalur Balaraja-Kembangan dan Medan Satria-Cikarang.
Proses lelang pengadaan paket pekerjaan awal untuk rute Tomang hingga Medan Satria sepanjang 24,5 kilometer saat ini sudah mulai berjalan.
"Fokus sekarang adalah dari Medan Satria sampai dengan Tomang, ini ada kurang lebih 12 paket pekerjaan. Satu paket itu adalah paket kecil atau kita sebut pekerjaan persiapan, small package, ini sudah mulai lelang," tutur Weni Maulina, Direktur Konstruksi MRT Jakarta.
Konstruksi fisik di rute ini akan mengombinasikan jalur layang sepanjang rute Tomang-Grogol serta Pakulonan-Cakung Barat-Medan Satria, dan jalur bawah tanah sepanjang 9 kilometer.
"Tomang sampai dengan Grogol ini kurang lebih ada sekitar 1,9 kilometer elevated gitu ya dalam bentuk elevated. Selanjutnya CP102, CP103, CP104 dan CP105 ini adalah pekerjaan underground bawah tanah," ujar Weni.
Pekerjaan bawah tanah mencakup rute Roxy-Petojo (CP102), Cideng-Thamrin (CP103), Thamrin-Kwitang (CP104), dan Kwitang-Galur (CP105).
"CP102 itu dari Roxy sampai Petojo, kemudian CP103 itu area Cideng sampai Thamrin. Lanjut Thamrin sampai Kwitang, tadi disampaikan CP104, lalu paket CP105 itu Kwitang sampai Galur. Jadi ada sekitar 9 kilometer in total untuk jalur Timur-Barat yang bawah tanah," sambungnya.
Target pelaksanaan konstruksi dipatok mulai akhir tahun 2026 dengan pendanaan finansial yang bersumber dari skema pinjaman JICA.
"InsyaAllah kita mulai di akhir tahun ini. Sekarang masih masa lelang ya, semuanya masih masa-masa lelang. Sudah kita call for tender dan pihak kontraktor, potensial kontraktor karena kita masih menggunakan JICA Loan, memang ini masih bermitra dengan Jepang," pungkasnya.