Morgan Stanley Capital International (MSCI) resmi mengumumkan hasil evaluasi indeks periode Mei 2026 dengan mengeluarkan enam saham besar Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes pada Rabu (13/5). Perubahan ini mencakup penghapusan saham AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT dari kategori utama tersebut.
Berdasarkan laporan harian pasar dari Stockbit, saham AMRT yang keluar dari indeks standar justru masuk ke dalam MSCI Small Cap Indexes. Di sisi lain, indeks kategori kapitalisasi kecil ini juga mendepak sejumlah emiten seperti ANTM, AALI, BANK, BSDE, SIDO, hingga MIKA.
Penghapusan saham BREN dan DSSA dinilai sejalan dengan kebijakan MSCI terkait daftar konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi atau high shareholding concentration (HSC). Langkah ini diprediksi memicu tekanan jual dari dana pasif menjelang tanggal efektif rebalancing pada 29 Mei 2026.
| Kategori Indeks | Masuk | Keluar |
|---|---|---|
| Global Standard | - | AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, AMRT |
| Small Cap | AMRT | ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, TAPG |
| Micro Cap | - | - |
Selain sentimen indeks, sektor korporasi mencatat langkah strategis PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) yang menjajaki kerja sama lima proyek energi dengan PT Humpuss. Nilai investasi pengembangan proyek tersebut diperkirakan mencapai US$1,5 miliar atau setara Rp25,5 triliun.
Rencana kolaborasi ini meliputi pengembangan unit polimerisasi katalitik, proyek mini LNG, hingga pusat data di Pulau Sabang, Aceh. Kerja sama diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman yang bersifat tidak mengikat untuk tahap evaluasi awal.
"Penjajakan kerja sama ini merupakan bagian dari langkah strategis perseroan dalam memperkuat portofolio investasi berbasis energi berkelanjutan," kata Ray Gerungan, Direktur Utama BIPI.
Ray Gerungan menjelaskan bahwa nota kesepahaman tersebut akan menjadi dasar bagi kedua belah pihak dalam melakukan studi kelayakan dan pembahasan struktur investasi. Kedua perusahaan juga membuka peluang untuk membentuk entitas patungan dengan prinsip partisipasi yang setara.
Pada laporan kinerja kuartal I-2026, PT XL Axiata Tbk (EXCL) membukukan rugi bersih Rp717 miliar akibat biaya integrasi pasca-merger. Namun, pihak manajemen menyatakan bahwa secara normalisasi, perusahaan masih mencatatkan laba setelah pajak sekitar Rp1,3 triliun.
Penurunan jumlah pelanggan EXCL menjadi 69,4 juta jiwa pada periode ini disebut sebagai bagian dari strategi peningkatan kualitas basis pengguna. Perusahaan fokus mengurangi pelanggan tidak aktif dan menyederhanakan produk untuk meningkatkan pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU).
Di sektor perbankan, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mencatatkan laba bersih tertinggi sepanjang sejarah perseroan sebesar Rp2,2 triliun pada kuartal I-2026. Pertumbuhan laba tersebut didorong oleh kenaikan pendapatan margin bersih dan efisiensi pada beban provisi.
Sementara itu, PT Elnusa Tbk (ELSA) melaporkan laba bersih sebesar Rp190 miliar pada periode yang sama dengan dukungan utama dari segmen distribusi energi dan logistik. Total nilai kontrak yang dimiliki ELSA hingga saat ini tercatat mencapai Rp17,5 triliun.