Fase ekspansi baru mulai dipacu oleh PT Nusatama Berkah Tbk (NTBK) dengan memperkuat ceruk bisnis kendaraan listrik. Langkah strategis ini juga dibarengi dengan upaya merambah lini usaha berbasis ekspor, seperti dikutip dari Investasi.
Pelemahan nilai tukar rupiah justru dipandang sebagai peluang oleh perusahaan untuk mengerek porsi pendapatan dalam dolar AS. Sejumlah opsi pendanaan kini tengah disiapkan guna menopang rencana ekspansi tersebut.
Direktur Utama Nusatama Berkah, Bambang Susilo, mengonfirmasi bahwa perseroan sedang menjalankan proses penggalangan dana. Beberapa skema yang dipertimbangkan meliputi rights issue, private placement, hingga penerbitan instrumen obligasi.
"Kami sedang fund raising. Salah satu opsinya rights issue. Tapi opsi lain seperti private placement dan penerbitan obligasi juga tetap terbuka," ujar Bambang dalam paparan publik, Rabu (13/5/2026).Target penghimpunan dana awal melalui rights issue dipatok mencapai Rp 500 miliar. Aksi korporasi ini akan dilakukan dengan menerbitkan sekitar 2,5 billion lembar saham baru pada tingkat harga Rp 200 per saham.
Penjajakan terhadap investor strategis dari dalam maupun luar negeri kini sedang berjalan, termasuk membidik mitra dari China dan Australia. Seluruh dana yang terkumpul dari aksi korporasi akan dialokasikan untuk memperkuat bisnis inti kendaraan listrik (EV) serta mendanai peningkatan kapasitas produksi.
Rincian penggunaan dana mencakup suntikan modal sebesar 40% untuk anak usaha, PT Pilar Pratama Dinamika. Selanjutnya, porsi sebesar 28% akan digunakan untuk membiayai pembangunan tahap II pabrik perakitan (assembly plant).
Alokasi modal kerja dan pengembangan bisnis EV mendapatkan jatah sebesar 16%. Sementara itu, sekitar 10% disiapkan untuk rencana akuisisi di sektor pertambangan, dan sisa 6% dialokasikan bagi pembangunan tahap awal fasilitas assembly plant.
Peningkatan kapasitas produksi EV truck dinilai sangat bergantung pada pengembangan pabrik perakitan baru. Fase awal perakitan bakal mengoptimalkan fasilitas yang sudah tersedia, sedangkan fase kedua akan dipusatkan di Subang dengan skala kapasitas yang lebih masif.
Diversifikasi portofolio ke sektor berbasis ekspor juga digarap serius demi mempertebal pendapatan dalam mata uang dolar AS. Upaya ini diwujudkan melalui penjajakan akuisisi perusahaan pengolahan kapur tohor (quicklime) di Nusa Tenggara Barat (NTB).
NTBK juga sedang memfinalisasi proses konsolidasi dengan korporasi eksportir mineral serta batu bara. Strategi ini diterapkan untuk menciptakan keseimbangan struktur pendapatan antara rupiah dan dolar AS sehingga perusahaan lebih kebal terhadap risiko fluktuasi kurs.
"Nanti harapannya di anak usaha justru lebih banyak pendapatan dolar dari ekspor mineral, nikel, dan batubara. Jadi risiko nilai tukar bisa tertutup," jelas Bambang.Pada sektor bisnis utama, pasar EV truck untuk kebutuhan industri tambang dan logistik digarap secara lebih agresif. NTBK menjalin kerja sama dengan prinsipal asal China guna mendatangkan truk listrik berat berteknologi Mercedes-Benz yang tangguh di medan pertambangan.
Segmen yang menjadi fokus utama perseroan bukanlah kendaraan penumpang, melainkan kendaraan niaga berat. Saat ini, kontribusi produk EV truck diperkirakan telah menyerap sekitar 30% dari total pasar yang dibidik.
Efisiensi Biaya Operasional Truk Listrik dan Tantangan Infrastruktur
Aspek efisiensi biaya operasional menjadi nilai jual utama dari penggunaan armada EV truck ini. Direktur NTBK, Ismu Prasetyo, memaparkan penghematan total biaya kepemilikan serta operasional bisa mencapai angka 20% hingga 30% jika disandingkan dengan truk berbahan bakar diesel.
"Pemeliharaan kendaraan listrik juga lebih rendah karena komponennya lebih sedikit dibanding kendaraan diesel," ujarnya.Serangkaian kegiatan uji coba armada telah dilaksanakan secara bersama dengan perusahaan logistik ternama seperti Samudera Indonesia. Pengujian serupa juga melibatkan pihak operator di kawasan pelabuhan Tanjung Priok.
Kendati demikian, sektor ini masih dihadapkan pada kendala nyata, khususnya keterbatasan infrastruktur pengisian daya baterai yang belum tersebar merata di wilayah pertambangan.
"Tidak semua tambang punya power plant. Jadi tantangannya memang pada penyediaan infrastruktur charging," kata Bambang.Di tengah proses masuknya calon investor strategis serta agenda ekspansi berskala besar, manajemen berkomitmen mempertahankan struktur kepemilikan saham. Langkah ini diambil agar kendali penuh atas perusahaan tidak mengalami perubahan.
"Jadi ini bukan pengambilalihan. Kami ingin ekspansi dan tetap menjaga kontrol mayoritas di entitas yang akan dikonsolidasikan," tegas Bambang.