Ahli Ornitologi Belanda Menjadi Pasien Nol Wabah Hantavirus MV Hondius

Ahli Ornitologi Belanda Menjadi Pasien Nol Wabah Hantavirus MV Hondius

Seorang ahli ornitologi asal Belanda, Leo Schilperoord (70), diidentifikasi sebagai pasien pertama dalam wabah Andes hantavirus mematikan yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius selama pelayaran di Atlantik Selatan pada April 2026. Penyelidikan otoritas kesehatan global memfokuskan pelacakan pada penyebaran jenis hantavirus langka yang dapat menular antarmanusia ini.

Sebagaimana dilansir dari Detik Health, Schilperoord dan istrinya, Mirjam Schilperoord (69), merupakan pengamat burung berpengalaman yang sempat menjelajahi wilayah Amerika Selatan sebelum naik ke kapal pada 1 April. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengategorikan sang suami sebagai kasus probable, sementara infeksi pada istrinya telah dikonfirmasi melalui pengujian PCR.

Pasangan ini diduga terpapar virus melalui hewan pengerat saat melakukan aktivitas pengamatan burung di habitat alami. Hasil analisis awal menunjukkan adanya risiko tinggi penularan zoonosis di area yang mereka kunjungi sebelum keberangkatan kapal pesiar tersebut.

"Kemungkinan terpapar hewan pengerat selama kegiatan pengamatan burung," tulis WHO dalam laporannya.

Keluarga Schilperoord diketahui sangat aktif dalam komunitas ornitologi internasional, termasuk mendokumentasikan spesies di Sri Lanka hingga menulis penelitian angsa di Belanda. Otoritas kini menelusuri riwayat perjalanan mereka untuk memastikan titik kontak utama dengan sumber virus.

Gejala awal dialami Leo Schilperoord pada 6 April yang meliputi demam dan gangguan pencernaan sebelum ia meninggal dunia di atas kapal pada 11 April. Sementara itu, Mirjam mulai mengeluhkan gangguan kesehatan serupa sebelum turun di Saint Helena pada 24 April.

"Kondisinya kemudian memburuk dalam penerbangan ke Johannesburg, Afrika Selatan, pada tanggal 25 April," kata WHO, dikutip dari Newsweek.

Mirjam sempat mendapatkan perawatan medis darurat setelah tiba di Afrika Selatan namun nyawanya tidak tertolong. Penyakit ini awalnya sulit terdeteksi karena memiliki kemiripan gejala dengan infeksi pernapasan umum lainnya.

"Ia meninggal pada tanggal 26 April di sebuah klinik di Johannesburg," sambungnya.

Pihak berwenang meyakini pasangan tersebut tertular virus saat mengunjungi lokasi pembuangan sampah di luar Ushuaia, Patagonia, yang merupakan habitat hewan pengerat pembawa virus Andes. Virus ini umumnya menular melalui partikel kotoran tikus yang terhirup oleh manusia di area terbuka.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memberikan penjelasan mengenai kesulitan identifikasi awal pada kasus kematian pertama di kapal tersebut.

"kematian Leo awalnya tidak dapat dijelaskan dan tidak ada sampel yang diambil saat itu," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

Wabah ini memicu peringatan internasional karena virus Andes merupakan varian hantavirus langka yang memiliki kemampuan transmisi antarmanusia melalui kontak dekat. Saat ini, otoritas kesehatan masih memantau sejumlah penumpang dari Amerika Serikat dan Eropa yang sempat berada dalam satu kapal dengan pasangan tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi