PCOS Berganti Nama Menjadi PMOS Setelah Konsultasi Global 14 Tahun

PCOS Berganti Nama Menjadi PMOS Setelah Konsultasi Global 14 Tahun

Komunitas medis internasional resmi mengganti nama Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS) pada Selasa, 12 Mei 2026, di Praha. Perubahan ini bertujuan untuk mengakhiri kesalahpahaman medis selama puluhan tahun mengenai kondisi hormonal yang memengaruhi satu dari delapan wanita di seluruh dunia.

Hasil kesepakatan tersebut dipublikasikan dalam jurnal The Lancet dan diumumkan pada Kongres Endokrinologi Eropa setelah melalui proses kolaborasi selama 14 tahun. Nama PMOS dipilih untuk merefleksikan sifat kondisi yang kompleks, yang tidak hanya memengaruhi sistem reproduksi tetapi juga metabolisme serta risiko diabetes dan penyakit kardiovaskular.

Direktur Monash Centre for Health Research & Implementation, Prof. Helena Teede, menjelaskan bahwa istilah polikistik dalam nama lama sering kali menyesatkan dan menyebabkan keterlambatan diagnosis. Menurut laporan The Guardian, kondisi ini diperkirakan berdampak pada 170 juta wanita secara global, namun 70 persen di antaranya tidak terdiagnosis menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"I never had – and still don’t have – cysts on my ovaries, so never really understood why I was diagnosed with ‘polycystic ovaries’," kata Maddy Mavrikis, seorang pasien yang didiagnosis pada usia 15 tahun.

Mavrikis mengenang bagaimana dokter pertamanya menyatakan ia kemungkinan tidak akan bisa memiliki anak karena diagnosis tersebut. Padahal, pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan ia tidak memiliki kista, melainkan ketidakseimbangan hormon androgen dan resistensi insulin yang dialami oleh sekitar 85 persen penderita PMOS.

"There are no abnormal cysts in PCOS," ujar Prof. Helena Teede, Direktur Monash Centre for Health Research & Implementation.

Teede menekankan bahwa nama baru ini mengalihkan fokus dari kesalahan persepsi tentang kista menuju pengakuan bahwa PMOS adalah kondisi endokrin yang jauh lebih luas. Ketidakseimbangan hormon insulin dan androgen memengaruhi berbagai sistem tubuh, termasuk kesehatan mental, kulit, dan fungsi jantung.

"They wanted it fixed," kata Prof. Helena Teede, Direktur Monash Centre for Health Research & Implementation.

Dorongan perubahan nama ini berasal dari pasien yang merasa menderita akibat stigma dan ketidaktahuan medis yang menyertai nama lama. Sebanyak 56 perkumpulan medis dan organisasi pasien dari berbagai wilayah terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang panjang ini.

"The efforts here are unprecedented. Nobody’s put this much effort into a name change ever," tutur Prof. Helena Teede, Direktur Monash Centre for Health Research & Implementation.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan perspektif pasien sangat krusial agar perubahan ini dapat bertahan dan diterima secara global. Proses survei melibatkan sekitar 22.000 pemangku kepentingan, termasuk dokter, peneliti, dan badan amal di seluruh dunia.

"When I’ve been in the room with these people that are very smart and have all this medical knowledge, I’ve felt an equal," ucap Lorna Berry, perwakilan konsumen global.

Berry yang telah mengadvokasi pendidikan tentang kondisi ini selama 25 tahun merasa suaranya dihargai dalam diskusi teknis tersebut. Ia menceritakan pengalamannya meyakinkan para ahli medis untuk tidak menggunakan kata reproduksi dalam nama baru demi menghindari stigma di berbagai budaya.

"We needed all those groups involved because we want every one of those groups and societies to own it in all world regions, and to actually drive the change. Otherwise they don’t get the benefit," jelas Prof. Helena Teede, Direktur Monash Centre for Health Research & Implementation.

Meskipun mayoritas mendukung, laporan STAT News menyebut adanya diskusi mengenai kemungkinan ekspresi kondisi ini pada pria. Namun, diputuskan untuk tetap menggunakan referensi ovarium guna memastikan fokus layanan kesehatan bagi wanita tidak terganggu sebelum penelitian lebih lanjut selesai.

"I’m incredibly pumped about what’s to come as a result of this," kata Rachel Morman, Ketua Wali Amanat Verity.

Morman menilai perubahan ini adalah kemenangan bagi advokasi pasien meski prosesnya memakan waktu lebih dari satu dekade. Sebelumnya, pertemuan para ahli di Sisilia pada tahun 2015 sempat berakhir buntu karena banyaknya perbedaan pendapat mengenai nama pengganti yang tepat.

"I fundamentally do not agree that waiting for a name change and then potentially changing it to encapsulate men is a wise thing to do. In fact, I would think that that would be even more harmful than keeping the name PCOS," tegas Rachel Morman, Ketua Wali Amanat Verity.

Ia berargumen bahwa menyertakan pria dalam nama kondisi saat ini justru dapat merugikan karena mengalihkan sumber daya penelitian yang sudah terbatas bagi wanita. Nama PMOS akhirnya dipilih karena dianggap lebih akurat secara ilmiah dalam menggambarkan perubahan hormonal dan respons folikel pada ovarium.

"Ovarian encompasses a lot more," ujar Prof. Helena Teede, Direktur Monash Centre for Health Research & Implementation.

Teede mengakui bahwa penamaan ini merupakan hasil kompromi yang mempertimbangkan perspektif budaya dan lingkungan di berbagai belahan dunia. Implementasi penuh nama PMOS dijadwalkan selesai pada tahun 2028 melalui kampanye edukasi internasional selama tiga tahun.

"While Monash-led international guidelines have advanced awareness and care, a name change was the next critical step towards recognition and improvement in the long-term impacts of this condition," jelas Prof. Helena Teede, Direktur Monash Centre for Health Research & Implementation.

Dilansir dari Canberra Times, perubahan ini dipandang sebagai momen bersejarah yang akan memicu kemajuan dalam praktik klinis dan penelitian di seluruh dunia. Bagi para pasien, kejelasan identitas medis ini diharapkan membawa akses layanan kesehatan yang lebih setara.

"This change was driven with and for those affected by the condition and we are proud to have arrived at a new name that finally accurately reflects the complexity of the condition," tutur Prof. Helena Teede, Direktur Monash Centre for Health Research & Implementation.

Harapan besar disematkan pada nama baru ini agar generasi mendatang mendapatkan pemahaman yang lebih baik sejak awal diagnosis. Para ahli menekankan bahwa akuntabilitas dalam dunia medis dimulai dari ketepatan istilah yang digunakan.

"Make no mistake, this is a landmark moment that will lead to desperately needed worldwide advancements in clinical practice and research," ucap Prof. Helena Teede, Direktur Monash Centre for Health Research & Implementation.

Lorna Berry meyakini bahwa hasil kolaborasi global ini akan mengubah hidup banyak wanita, termasuk anak-anak perempuannya di masa depan. Ia menekankan pentingnya kemajuan dan transparansi dalam menangani gangguan hormonal yang sistemik ini.

"This is about accountability and progress," ujar Lorna Berry, perwakilan konsumen global.

Ia menambahkan bahwa setiap wanita berhak mendapatkan kejelasan dan pemahaman medis sejak awal perjalanan kesehatannya. Kampanye penyebaran nama PMOS akan segera dimulai untuk menggantikan istilah PCOS di seluruh fasilitas kesehatan global.

"It is about my daughters, their daughters, and the countless women yet to be born," kata Lorna Berry, perwakilan konsumen global.

Lorna Berry menegaskan bahwa perjuangan panjang ini adalah demi masa depan kesehatan reproduksi yang lebih baik.

"We deserve clarity, understanding, and equitable healthcare from the very beginning," pungkas Lorna Berry, perwakilan konsumen global.

Artikel terkait

Rekomendasi