Pedagang Hewan Kurban di Jakarta Utara Rekrut SPG Berbaju Koboi demi Dongkrak Penjualan

Pedagang Hewan Kurban di Jakarta Utara Rekrut SPG Berbaju Koboi demi Dongkrak Penjualan

Seorang pedagang hewan kurban di bawah kolong tol Ir. Wiyoto Wiyono, Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara, bernama Kastono (51), menerapkan strategi pemasaran yang unik guna memikat hati para pembeli.

Seperti dikutip dari Megapolitan, Kastono yang sudah hampir empat tahun meneruskan bisnis almarhum ayahnya ini menghadirkan inovasi baru untuk mendongkrak penjualan menjelang Iduladha.

Sejak pertengahan 2023, Kastono sebenarnya telah membuka layanan salon khusus untuk sapi-sapi yang dijualnya, di mana hewan tersebut dimandikan, dipijat, hingga dirawat kukunya agar terhindar dari stres.

Namun pada tahun ini, ia menambah strategi pemasaran baru dengan mempekerjakan emak-emak berusia di atas 30 tahun sebagai Sales Promotion Girls (SPG) yang bertugas setiap Sabtu, Minggu, dan Senin.

Kastono sengaja memilih perempuan paruh baya yang komunikatif, berpenampilan menarik, serta fotogenik, dan mewajibkan mereka mengenakan kostum koboi lengkap saat melayani pelanggan.

"Tahun ini kami tambahkan lagi sesuatu yang unik dan menarik, yaitu kami menghadirkan tenaga pemasar atau SPG dengan kostum koboi," ujar Kastono ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Rabu (20/5/2026).

Inspirasi busana tersebut diperoleh Kastono dari media yang sering menampilkan para penggembala sapi dengan topi khas dan sepatu boots, sekaligus bertujuan agar penampilan para stafnya terlihat lebih rapi.

Alasan Kastono memilih ibu-ibu dibandingkan perempuan muda adalah untuk membantu mereka mendapatkan penghasilan tambahan melalui pekerjaan yang fleksibel atau tidak mengikat.

Sebelum mulai bertugas menyambut tamu dan mempromosikan hewan kurban, para pekerja tersebut terlebih dahulu diberikan edukasi mengenai jenis-jenis sapi dan kambing yang tersedia di lapak.

Langkah inovatif ini terbukti berhasil meningkatkan transaksi penjualan secara signifikan, bahkan sebagian besar stok hewan kurban milik Kastono sudah habis dipesan pembeli.

"Alhamdulillah, tahun ini ada sedikit peningkatan. Bahkan saat ini, meski Idul Adha masih sekitar delalan atau sembilan hari lagi, stok kami sudah banyak yang terjual habis atau sold out," jelas dia.

Dari total stok yang disediakan, sebanyak 75 persen dari 120 ekor kambing telah laku, sementara untuk sapi, sekitar 90 persen dari total 45 hingga 50 ekor juga sudah terpesan.

Banyaknya jumlah hewan yang terjual membuat omzet bisnis musiman yang dikelola Kastono pada tahun ini berhasil menyentuh angka miliaran rupiah.

"Kambing dan sapi omzet kurang lebih Rp 1,5 microliar," ucap Kastono.

Pakar Marketing Yuswohadi menilai bahwa keputusan menggunakan jasa tenaga pemasar dari kalangan ibu-ibu di atas 30 tahun sangat kompeten karena penjualan hewan kurban memerlukan pengetahuan mendalam.

"Pengetahuan tentang kurban mestinya lebih dikuasai oleh ibu-ibu ini dibandingkan SPG biasa di supermarket atau mal yang mungkin hanya mengandalkan penampilan," kata Yuswo ketika dihubungi Kompas.com, Selasa.

Menurut Yuswohadi, daya tarik pemasar tidak hanya bertumpu pada visual, tetapi juga pada kemampuan komunikasi persuasif, pemahaman produk, keramahan, serta empati yang matang.

"Dengan menyesuaikan kostum yang relevan dengan konteks penjualannya, itu menunjukkan tingkat profesionalisme yang tinggi terhadap produk yang dijual," tutur dia.Terkait aspek kesehatan, Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (KPKP) Jakarta Utara, Novy Christine Palit, mengingatkan pentingnya kelengkapan dokumen kesehatan satwa.

"Hewan kurban yang berasal dari luar Jakarta biasanya, sudah dilakukan vaksinasi dari daerah asal," ujar Novy ketika dihubungi Kompas.com, Selasa.

Petugas Sudin KPKP nantinya akan melakukan verifikasi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) untuk memastikan seluruh sapi dan kambing yang diperjualbelikan telah menerima vaksin.

Novy memberikan saran agar pedagang selalu menerapkan prinsip 3S (senyum, salam, sapa), menjaga sanitasi area lapak yang teduh, serta mengelola limbah dengan benar agar tidak mencemari lingkungan.

"Pengolahan limbah kurban diolah dengan baik dan benar agar tidak menimbulkan bau tidak sedap, lalat dan pencemaran lingkungan," jelas Novy.

Novy juga membagikan panduan bagi masyarakat dalam memilih hewan kurban yang layak, di antaranya memeriksa SKKH, memastikan mata hewan cerah, bulu mengkilap, nafsu makan baik, tidak cacat, serta cukup umur.

Artikel terkait

Rekomendasi