Sejumlah produsen tabir surya diduga memalsukan klaim kandungan SPF pada produk mereka yang mengakibatkan perlindungan kulit dari sinar UV A dan UV B tidak optimal. Fenomena ini terungkap setelah pengujian laboratorium menunjukkan adanya produk berlabel SPF 45 yang ternyata hanya memiliki kandungan asli SPF 3,6, dilansir dari Wolipop.
Julian Sass, seorang ilmuwan kosmetik asal Kanada, melakukan investigasi terhadap produk dengan tekstur transparan mencurigakan dan komposisi yang tidak mengandung bahan pelindung matahari seperti zinc oxide. Penelitian dilakukan melalui uji laboratorium in vitro serta penggunaan kamera UV untuk membuktikan efektivitas produk tersebut.
"Ini bukan produk dengan perlindungan spektrum luas sehingga tidak bisa melindungi dari sinar UV A penyebab penuaan dini dan kanker kulit. Dalam komposisinya bahkan tidak tercantum bahan perlindungan matahari," ujar Dr. Sass, Ilmuwan Kosmetik.
Risiko kesehatan serius mengintai pengguna karena kegagalan perlindungan terhadap radiasi ultraviolet dapat memicu pertumbuhan sel kulit abnormal. Kondisi ini menjadi faktor risiko utama munculnya kanker kulit seperti karsinoma sel basal, karsinoma sel skuamosa, hingga melanoma yang mematikan.
Paul Banwell dari Banwell Clinic memberikan peringatan tegas kepada konsumen agar tidak mudah tergiur dengan penawaran harga produk yang jauh di bawah standar pasar.
"Jika terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, kemungkinan memang tidak asli," ujar Paul Banwell, Ahli Kanker Kulit.
Identifikasi produk palsu dapat dilihat dari tekstur yang menyerupai pasta atau kapur serta kemasan berkualitas rendah yang sering kali tidak mencantumkan tanggal kedaluwarsa. Produk populer asal Korea seperti Beauty of Joseon dan Round Lab menjadi sasaran utama pemalsuan sehingga produsen kini mulai menambahkan kode QR khusus.
Ifeoma Ejikeme menjelaskan bahwa kandungan dalam tabir surya, baik jenis mineral maupun kimia, memiliki peran krusial dalam menyerap atau memantulkan radiasi berbahaya dari permukaan kulit.
"Kandungan dalam sunscreen tersebut membantu melindungi kulit dari efek buruk sinar matahari," ujar Ifeoma Ejikeme, Founder dan Direktur Medis Adonia Medical Clinic.
Pemilihan jenis pelindung matahari dapat disesuaikan dengan kebutuhan, di mana mineral sunscreen dinilai lebih stabil untuk kulit sensitif. Penggunaan rutin tetap disarankan oleh para ahli dalam segala kondisi cuaca untuk mencegah kerusakan DNA kulit jangka panjang.