Sektor Batu Bara Diminta Perluas Pemantauan Standar ESG

Sektor Batu Bara Diminta Perluas Pemantauan Standar ESG

Implementasi praktik Environmental, Social, and Governance (ESG) di industri batu bara pada Jumat (14/5/2026) dinilai harus mencakup seluruh rantai pasok, mulai dari operasional hingga dampak hilir penggunaan energi. Pendekatan ini bertujuan agar dekarbonisasi sektor tambang dapat diukur secara kredibel dan transparan.

Pengawasan menyeluruh tersebut mencakup siklus hidup industri secara utuh guna menekan emisi secara efektif, sebagaimana dilansir dari Money. Pakar dari Life Cycle Expert Panel KESGI, Jessica Hanafi, menekankan pentingnya pengelolaan data monitoring yang kuat bagi perusahaan.

"Sering kali perusahaan hanya melihat emisi langsung atau listriknya saja. Padahal kita juga harus melihat emisi dari transportasi, limbah B3, hingga bagaimana batu bara itu digunakan di pembangkit," kata Jessica dalam keterangannya, Jumat (14/5/2026).

Jessica menambahkan bahwa dimensi sosial dalam ESG, khususnya terkait kesehatan pekerja dan masyarakat terdampak debu tambang, masih sering luput dari laporan keberlanjutan perusahaan. Ia mendorong adanya perhatian serius pada isu pernapasan di lingkungan sekitar tambang.

"Kecelakaan kerja mungkin sudah mulai ditekan, tapi isu seperti gangguan pernapasan akibat paparan debu tambang masih jarang dibahas secara serius dalam laporan ESG," katanya.

Transisi menuju energi bersih juga wajib mempertimbangkan nasib ekonomi masyarakat yang bergantung pada tambang agar tidak tercipta fenomena kota mati. Hal ini krusial untuk menjaga stabilitas sosial di wilayah operasional.

"Kita juga harus memikirkan apa yang terjadi terhadap pekerja dan masyarakat sekitar tambang ketika transisi berlangsung. Jangan sampai wilayah tambang menjadi kota mati ketika industri berhenti," ujarnya.

Direktur Eksekutif The Prakarsa, Victoria Fanggidae, menyebutkan adanya jurang antara komitmen di atas kertas dengan realitas implementasi di lapangan. Verifikasi independen oleh masyarakat sipil dianggap menjadi kunci akuntabilitas klaim ESG.

"ESG yang baik itu bisa diukur, diverifikasi, dan dirasakan. Kalau tidak ada semuanya, ya itu hanya narasi," jelas Victoria.

Victoria mengimbau jurnalis untuk tidak hanya terpaku pada laporan resmi, tetapi juga melakukan investigasi data independen dan pemeriksaan langsung terhadap mekanisme penanganan keluhan masyarakat.

"Jurnalis penting untuk mengecek apakah mekanisme keluhan benar-benar berjalan, apakah dampak kesehatan atau sosialnya benar-benar dipantau," tutur dia.

Kesiapan dalam menjalankan standar ini masih belum merata, dengan perbedaan mencolok antara perusahaan besar dan kecil. Program Manager for Climate & Circular Economy IBCSD, Lusye Marthalia, menyoroti tantangan kapasitas internal dan pemahaman manajemen tingkat atas.

"Perusahaan-perusahaan besar umumnya sudah lebih terlihat implementasi ESG-nya karena tuntutan kepatuhan dan pelaporan. Tapi perusahaan tambang yang lebih kecil masih menghadapi tantangan besar, bahkan untuk memahami penghitungan emisi dan strategi dekarbonisasi," kata Lusye.

Dukungan dari jajaran direksi menjadi faktor penentu apakah penerapan ESG akan berjalan konsisten atau terhenti di tengah jalan. Oleh sebab itu, penguatan kapasitas level manajemen puncak menjadi kebutuhan mendesak bagi industri tambang.

"Kalau top management tidak memahami ESG, biasanya implementasinya berhenti di tengah jalan. Karena itu, capacity building untuk level direksi menjadi sangat penting," ujarnya.

Lusye juga menyinggung perlunya insentif keuangan untuk membantu perusahaan melakukan audit awal dan investasi teknologi rendah karbon. Skema pembiayaan ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi pelaku industri.

"Transisi menuju emisi rendah itu membutuhkan investasi awal, mulai dari audit, pengukuran, sampai teknologi bersih. Karena itu, perlu ada mekanisme pembiayaan dan insentif yang mendukung agar perusahaan melihat ESG bukan hanya sebagai kepatuhan, tetapi juga nilai tambah," katanya.

Untuk mengatasi masalah standarisasi pelaporan yang beragam, Katadata Green memperkenalkan dashboard KESGI. Alat ini dirancang untuk mempermudah pembandingan kinerja ESG antarperusahaan melalui visualisasi data yang sistematis.

"Meskipun sumber data ESG cukup banyak dan sebagian sudah dipublikasikan melalui sustainability report, namun data itu tersebar dan standar pelaporannya berbeda-beda. Akibatnya, akan lebih sulit melihat keterkaitan antar-data maupun membandingkan kinerja perusahaan," ujar Communication Strategist Katadata Green, C. Bregas Pranoto.

Melalui platform ini, pengguna dapat menelusuri fluktuasi skor ESG dan memahami indikator spesifik yang memengaruhi peringkat sebuah perusahaan pertambangan setiap tahunnya.

"Dashboard ini tidak hanya menampilkan skor ESG, tetapi juga mencoba membuat data-data tersebut bercerita melalui visualisasi yang lebih mudah dipahami," katanya.

Sistem ini memungkinkan pelacakan mendalam pada aspek emisi, tata kelola, dan tanggung jawab sosial. Fokus utamanya adalah keterbukaan informasi mengenai perkembangan atau ketertinggalan kinerja perusahaan.

"Jadi kita tidak hanya melihat skor akhirnya, tetapi juga bisa menelusuri indikator apa yang membuat skor perusahaan naik atau turun, mana aspek yang sudah berkembang, dan mana yang masih tertinggal," ujarnya.

Artikel terkait

Rekomendasi