Pemerintah melalui sinergi BUMN akan memulai pembangunan fasilitas riset dan industri logam tanah jarang (rare earth element/REE) di Bangka Belitung pada Rabu, 20 Mei 2026. Proyek strategis ini merupakan kolaborasi antara PT Timah (Persero) Tbk (TINS) dengan Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), badan usaha di bawah naungan Danantara.
Persiapan konstruksi saat ini sedang dipacu agar proses peletakan batu pertama atau groundbreaking dapat terlaksana sesuai jadwal pekan depan. Dilansir dari Detik Finance, Kepala Badan Industri Mineral (BIM) Brian Yuliarto menyatakan bahwa seluruh elemen pendukung proyek terus dimatangkan untuk mengejar target tersebut.
"Iya, jadi itu masih dikebut terus ya, nanti Perminas bersama dengan PT Timah tentunya akan, saat ini sedang kita lakukan persiapan terus-menerus ya. Kita kejar, di tanggal 20, minggu depan," ujarnya Brian Yuliarto, Kepala Badan Industri Mineral (BIM).
Brian menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan proyek ini tetap berjalan meski terdapat potensi pergeseran jadwal dari rencana semula. Penegasan ini disampaikan guna menjamin keberlangsungan hilirisasi mineral di dalam negeri pada tahun ini.
"But indeed this year it will definitely start to be built," ujarnya Brian Yuliarto, Kepala Badan Industri Mineral (BIM).
Sebelumnya, rencana keterlibatan pimpinan negara dalam seremoni dimulainya proyek ini telah diungkapkan dalam forum resmi bersama legislatif. Direktur Utama PT Timah Restu Widiyantoro menyebut bahwa Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan memimpin langsung proses groundbreaking tersebut.
Dalam skema kerja sama ini, PT Timah berperan sebagai penyedia bahan baku utama yang diambil dari sisa hasil produksi (SHP) penambangan timah. Restu menjelaskan bahwa limbah yang selama ini belum terkelola akan diolah oleh Perminas menjadi produk hilir yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
"PT Timah mendapat tugas untuk sebagai supplier untuk bahan-bahan REE atau SHP-nya. Sisa hasil produksi dari timah itu menjadi bahan utama untuk Perminas yang nanti selanjutnya Perminas akan memproses menjadi produk-produk ikutannya," jelas Restu Widiyantoro, Direktur Utama PT Timah.
Pihak manajemen menargetkan fasilitas ini sudah bisa memberikan dampak finansial yang nyata bagi keuangan negara dalam jangka pendek. Pengolahan komoditas ini diharapkan mampu memperkuat cadangan devisa melalui ekspor produk turunan logam tanah jarang.
"Kerja sama ini diprogramkan untuk mencapai 2 tahun sudah diharapkan terjadi monetisasi. Jadi sudah bisa menghasilkan produk yang bisa mendapatkan devisa untuk negara. Kira-kira seperti itu, belum bisa kami laporkan secara detail karena memang program ini baru dimulai sekitar 1,5 atau 2 bulan yang lalu sehingga masih dalam kajian oleh PT Timah dan Perminas," terang Restu Widiyantoro, Direktur Utama PT Timah.