Pemuda Bekasi Sukses Raih Omzet Puluhan Juta dari Ternak Kambing

Pemuda Bekasi Sukses Raih Omzet Puluhan Juta dari Ternak Kambing

Seorang pemuda bernama Muksin (24) di Kampung Gabus, Desa Srimukti, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, sukses meraup omzet puluhan juta rupiah dari usaha peternakan kambing yang dirintisnya menggunakan uang tabungan hasil bekerja di pabrik.

Kisah keberhasilan pemuda asal Kabupaten Bekasi ini dilansir dari Megapolitan pada Minggu (17/5/2026). Muksin terpaksa mengambil keputusan untuk menyudahi pendidikannya di bangku kuliah demi membantu perekonomian keluarga yang sedang mengalami kesulitan finansial.

Pendidikan tinggi di jurusan Akuntansi pada salah satu universitas di Bekasi sempat ditempuh oleh Muksin pada tahun 2020 lalu. Langkah tersebut terhenti setelah dirinya hanya mengikuti perkuliahan selama kurun waktu kurang lebih satu bulan.

“Dulu saya sempat kuliah Akuntansi sekitar satu bulan. Tapi karena terkendala biaya, akhirnya saya memutuskan kerja di PT sambil ternak kambing,” ujar Muksin kepada Kompas.com, Minggu (17/5/2026).

Tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga harus diemban oleh Muksin sejak kepergian sang ayah yang meninggal dunia pada tahun 2021. Anak ke-11 dari 12 bersaudara ini kemudian membagi waktunya untuk bekerja di sebuah perusahaan swasta sekaligus mengelola hewan ternak.

“Awalnya saya ternak kambing cuma buat mengisi waktu luang saat libur supaya ada kegiatan yang bermanfaat. Ternyata malah menghasilkan,” kata Muksin.

Fokus dan keseriusan dalam mengelola peternakan kambing baru berjalan selama satu tahun terakhir. Usaha yang awalnya dimulai dengan membeli 10 ekor anak kambing untuk digemukkan kini telah berkembang hingga mencapai jumlah 18 ekor.

"Alhamdulillah tahun ini lebih dari sembilan kambing sudah dibeli buat kurban. Harganya sekitar Rp 3 juta sampai Rp 4 juta per ekor. Tergantung ukurannya ya," jelas Muksin.

Proses pemeliharaan hewan ternak ini mengharuskan Muksin untuk mencari pakan rumput setiap hari setelah pulang dari pabrik. Selain itu, pemberian obat cacing berkala setiap tiga bulan dan jamu nafsu makan setiap bulan menjadi rutin dilakukan.

“Sebenarnya rawat kambing itu enggak sulit. Yang penting dikasih obat cacing sama jamu nafsu makan,” ucap Muksin.

Pemeriksaan kondisi fisik kambing dilakukan satu per satu setiap hari dengan biaya operasional yang menghabiskan dana sekitar Rp 30.000 per hari. Pengawasan area kandang juga dibantu oleh kakak kandungnya selama Muksin bekerja dari pagi hingga sore hari.

"Untuk urusan jaga kandang dibantu Abang. Karena kan saya kerja dari pagi sampai sore," kata Muksin.

Keputusan menjadi peternak di usia muda sempat membuat Muksin menerima respons negatif dari lingkungan sekitar. Beberapa orang meremehkan usahanya karena dinilai identik dengan lingkungan kandang yang kotor dan berlumpur.

“Pernah ada yang bilang, ‘Kenapa sih masih muda kok mau ternak kambing? Emang enggak ada kerjaan lain apa?’” tutur Muksin.

Tabungan dari hasil penjualan kambing tersebut kini dialokasikan untuk membiayai persiapan keberangkatan kerja ke Jepang pada akhir tahun 2026. Manajemen operasional kandang akan diserahkan sepenuhnya kepada sang kakak selama Muksin berada di luar negeri.

“Kalau nanti saya berangkat ke Jepang, ternaknya mungkin dilanjutkan abang dulu. Nanti kalau saya pulang baru saya kembangin lagi,” ujar Muksin.

Bagi Muksin, esensi dari sebuah kesuksesan diukur dari keberanian menangkap peluang yang ada di sekitar. Prinsip utama yang dipegangnya adalah ketekunan dalam menjalankan pekerjaan yang halal tanpa perlu merasa malu.

“Yang penting jangan malu sama pekerjaan. Selagi halal dan enggak merugikan orang lain, ya jalani saja,” kata Muksin.

Rasa senang dalam menjalankan hobi membuat seluruh proses perawatan hewan ternak terasa ringan bagi dirinya. Evaluasi hasil akhir akan selalu sejalan dengan besarnya pengorbanan serta usaha yang telah dikerahkan secara sungguh-sungguh.

“Walaupun kata orang ini kotor, tapi kalau memang hobi ya senang ngejalaninnya,” ujar Muksin.

Artikel terkait

Rekomendasi