Sektor properti di Jakarta menunjukkan tren pemulihan struktural pada kuartal pertama 2026 yang didorong oleh pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen serta dominasi penyerapan riil dari pengguna akhir. Kondisi ini menandai pergeseran pasar dari motif spekulatif menuju fundamental yang lebih matang pada Rabu (6/5/2026).
Dilansir dari Kompas, realisasi investasi pada periode ini mencapai Rp 500 triliun dengan pembagian yang hampir seimbang antara modal asing dan domestik. Penanaman Modal Asing mencatatkan nilai Rp 250 triliun, sementara Penanaman Modal Dalam Negeri berada di angka Rp 248,8 triliun.
Managing Director CBRE Advisory Indonesia, Angela Wibawa, menjelaskan bahwa fenomena ini menjadi indikator pasar yang jauh lebih sehat dibandingkan periode sebelumnya.
"Kondisi saat ini menciptakan pasar yang lebih dapat diprediksi, memungkinkan pengambilan keputusan jangka panjang dilakukan dengan keyakinan yang lebih tinggi," tutur Angela, menjawab pertanyaan Kompas.com, Rabu (6/5/2026).
Stabilitas ini juga didukung oleh tingkat inflasi yang terjaga pada level 2,5 persen hingga 1 persen. Menurut Senior Director Research CBRE Indonesia, Anton Sitorus, arus modal pada sektor jasa dan industri memberikan dampak pengganda terhadap permintaan ruang properti fungsional di ibu kota.
Pada sektor perkantoran kawasan Central Business District (CBD), tingkat hunian mencapai 76,1 persen per Maret 2026 meski tanpa adanya pasokan gedung baru. Para penyewa saat ini cenderung memilih gedung kategori Premium dan Grade A yang telah memiliki sertifikasi ramah lingkungan.
"Menariknya, fleksibilitas kontrak sewa dan strategi right-sizing menjadi instrumen utama bagi perusahaan dalam mengoptimalkan efisiensi operasional tanpa mengorbankan kualitas ruang kerja," cetus Anton.
Sektor logistik modern di wilayah Jabodetabek mencatatkan performa paling impresif dengan tingkat hunian menyentuh 97,9 persen. Kebutuhan lahan untuk pusat data, e-commerce, dan industri farmasi memicu kenaikan harga tanah sebesar 4 persen di wilayah mapan seperti Cikarang.
Head of Capital Markets & Industrial Services, Ivana Susilo, menyatakan bahwa integrasi infrastruktur semakin memperkuat koridor timur sebagai pusat logistik.
"Konektivitas infrastruktur yang kian terintegrasi memperkuat posisi koridor timur sebagai pusat gravitasi logistik nasional," jelasnya.
Sementara itu, sektor ritel Jakarta mengalami kenaikan okupansi hingga 86 persen dengan pusat perbelanjaan kelas atas tetap mendominasi pasar. Transformasi mal menjadi destinasi pengalaman melalui konsep gaya hidup dan olahraga menjadi faktor utama yang menarik minat peritel asing.
Angela Wibawa menilai bahwa pertumbuhan struktural ini membuat risiko pasar menjadi lebih terukur bagi para investor dan pengembang.
"Dengan fundamental yang kian solid, Jakarta tengah membangun landasan yang kokoh bagi masa depan properti yang tidak hanya tumbuh dalam volume, tetapi juga dalam kualitas dan keberlanjutan," tuntasnya.