Informasi mengenai ancaman hantavirus baru-baru ini menjadi bahan perbincangan hangat di berbagai platform digital oleh para netizen. Menanggapi situasi tersebut, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan penjelasan ilmiah agar masyarakat tetap tenang.
Ristiyanto, Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, mengungkapkan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik. Virus ini ditularkan melalui hewan pengerat atau rodensia, terutama jenis tikus liar, seperti dikutip dari Detik iNET.
Beberapa jenis tikus yang berperan sebagai inang atau reservoir hantavirus meliputi tikus rumah, tikus got, tikus ladang, hingga mencit liar. Salah satu varian yang paling disorot adalah virus Andes yang ditemukan di kawasan Patagonia, Argentina, dan Chile.
Virus Andes perlu diwaspadai karena berpotensi memicu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Kondisi ini merupakan infeksi paru-paru berat yang dapat menyebabkan pasien mengalami gagal napas akut secara tiba-tiba.
"Penularan umumnya terjadi ketika manusia menghirup partikel halus dari urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi," jelas Ristiyanto.
Meskipun tingkat kematian akibat HPS tergolong tinggi, yakni mencapai kisaran 20 hingga 35 persen, kabar baik muncul bagi masyarakat Indonesia. Ristiyanto menegaskan belum pernah ada laporan kasus virus Andes di Tanah Air.
Berdasarkan riset panjang yang dilakukan di dalam negeri, virus mematikan ini tidak ditemukan pada kelompok tikus domestik maupun liar. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat populasi tikus di kawasan permukiman Indonesia cukup padat.
Gejala awal infeksi hantavirus sering kali menyerupai flu biasa, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, dan tubuh terasa lemas. Ketidaksamaan gejala ini sering kali membuat penanganan medis menjadi terlambat dilakukan.
Karakteristik Penyebaran Virus
Peneliti BRIN lainnya, Arief Mulyono, meluruskan disinformasi yang menyebutkan virus ini menyebar dengan mudah seperti COVID-19 atau influenza. Ia menegaskan karakter penyebaran hantavirus sangat berbeda dengan virus-virus tersebut.
Walaupun terdapat kemungkinan penularan antarmanusia pada kasus virus Andes, hal tersebut dilaporkan sangat jarang terjadi. Interaksi fisik yang sangat erat dan intensif dalam durasi lama menjadi syarat terjadinya penularan manusia ke manusia.
"Penyakit ini tidak menyebar cepat melalui udara di lingkungan masyarakat," tegas Arief.
Arief juga membantah rumor yang beredar di masyarakat mengenai hantavirus sebagai penyakit menular seksual. Fokus utama penularan tetap berasal dari paparan lingkungan yang terkontaminasi kotoran tikus liar.
Langkah Mitigasi dan Pencegahan
Risiko paparan hantavirus dinilai lebih tinggi pada kelompok pekerja tertentu, seperti petugas kebersihan, petani, pekerja kehutanan, dan warga yang membersihkan gudang tua. BRIN menyarankan langkah pencegahan dalam aktivitas sehari-hari.
Masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan rumah dan menutup semua akses masuk yang memungkinkan tikus bersarang. Bahan makanan juga harus disimpan di dalam wadah yang tertutup rapat untuk menghindari kontaminasi.
Penggunaan masker dan sarung tangan sangat disarankan saat membersihkan area yang sudah lama tidak dihuni atau gudang. BRIN mengingatkan agar tidak langsung menyapu kotoran tikus yang sudah kering karena debunya dapat terhirup.
Penyemprotan cairan disinfektan pada kotoran tikus sebelum dibersihkan merupakan langkah penting untuk menekan risiko aerosol. Pendekatan One Health dan penguatan surveilans menjadi kunci utama dalam mencegah penyakit zoonosis di masa depan.
"Penguatan surveilans, pengendalian tikus, edukasi masyarakat, serta pendekatan One Health menjadi langkah penting dalam mencegah munculnya penyakit zoonosis seperti hantavirus. Yang terpenting, masyarakat tetap tenang, waspada, dan memahami langkah pencegahan yang benar," pungkas Arief.