Penghapusan Layanan GoRide Hemat dan GrabBike Hemat Memunculkan Dampak Berlapis

Penghapusan Layanan GoRide Hemat dan GrabBike Hemat Memunculkan Dampak Berlapis

JAKARTA, KOMPAS.com – Penghapusan layanan GoRide Hemat dan GrabBike Hemat memunculkan dampak berlapis di ekosistem ojek online.

Di satu sisi, kebijakan itu disambut positif sebagian pengemudi karena dianggap dapat memperbaiki pendapatan driver.

Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran tarif yang lebih mahal justru membuat pengguna berkurang.

Layanan tarif hemat selama ini menjadi salah satu opsi yang dipilih pengguna karena menawarkan ongkos perjalanan lebih murah dibanding layanan reguler.

Namun bagi sebagian pengemudi, skema tersebut dinilai membuat pendapatan yang diterima semakin kecil.

Pendapatan atau permintaan?

Pengamat transportasi Deddy Herlambang menilai, berakhirnya layanan tarif hemat tidak bisa semata dipandang sebagai keuntungan bagi driver ojol.

Sebab, potensi kenaikan pendapatan tetap sangat bergantung pada jumlah permintaan pengguna di lapangan.

“Pengguna ojol mungkin akan berkurang bila ongkos ojol dianggap mahal karena tiada lagi tarif hemat. Ditutupnya paket hemat pendapatan driver bisa naik tapi demand bisa saja menurun,” kata Deddy saat dihubungi Kompas.com melalui telepon, Kamis (21/5/2026).

Persoalan utama bukan hanya soal tarif murah atau mahal, tetapi keseimbangan antara jumlah penumpang dan pengemudi.

Jika tarif naik dan pengguna menurun, sementara jumlah driver terus bertambah tanpa pembatasan kuota, persaingan antarpengemudi justru berpotensi semakin ketat.

Deddy juga menilai struktur biaya layanan masih menjadi persoalan lain yang perlu diperhatikan aplikator.

Potongan komisi sebesar 20 persen, menurut dia, selama ini masih dianggap cukup membebani pengemudi.

Karena itu, ia menilai penghapusan tarif hemat belum tentu otomatis membuat kesejahteraan driver membaik apabila tidak diikuti perbaikan sistem secara menyeluruh.

Order murah, jarak panjang

Di sisi lain, sejumlah pengemudi ojol mengaku lega dengan dihentikannya layanan Hemat.

Mereka menilai sistem tersebut selama ini membuat pendapatan yang diterima driver tidak sebanding dengan biaya operasional di lapangan.

Seorang pengemudi ojol di Jakarta, Abdul (31), mengatakan order layanan Hemat sering kali memiliki jarak penjemputan terlalu jauh.

Dalam kondisi hujan maupun jam sibuk, order semacam itu justru dianggap merugikan pengemudi karena menghabiskan bensin dan waktu lebih banyak.

“Kadang jarak jemputnya bisa 2 sampai 5 kilometer. Jadi bukan driver enggak mau ambil order, tapi memang kejauhan,” kata Abdul.

Selain itu, driver juga mengeluhkan perbedaan antara tarif yang dibayar pelanggan dengan penghasilan yang diterima pengemudi.

Menurut mereka, selisih potongan pada layanan Hemat terasa lebih besar dibanding layanan reguler.

Meski demikian, sebagian pengemudi juga mengaku khawatir apabila nantinya aplikator menghadirkan sistem baru dengan pola serupa, hanya berbeda nama layanan.

Pengemudi lainnya menilai perubahan sistem sebenarnya bukan persoalan utama selama jumlah order tetap ramai setiap hari.

Sebab, kondisi paling berat bagi driver adalah ketika permintaan penumpang menurun.

Harapan driver

Sementara itu, Cecep (45), pengemudi ojol di Tangerang Selatan, berharap penghentian layanan Hemat dapat membuat penghasilan driver kembali lebih layak dan sesuai aturan pemerintah.

“Saya pribadi bergembira dengan keputusan Grab dan Gojek menghentikan program ini. Mudah-mudahan setelah layanan Hemat dihentikan, penghasilan driver bisa naik lagi dan lebih sesuai dengan aturan dalam Perpres,” kata Cecep.

Hal senada juga disampaikan pengemudi lain yang menilai layanan Hemat selama ini memang lebih menguntungkan pelanggan karena tarif lebih murah, tetapi di sisi lain membebani driver karena harus membayar akses ke order tarif hemat.

Menjaga ekosistem

Sebelumnya, Grab Indonesia mengumumkan penghentian Program Langganan Akses Hemat bagi mitra pengemudi GrabBike sebagai bagian dari penyesuaian perusahaan untuk menjaga keberlanjutan ekosistem layanan.

“Penutupan program langganan ini juga dilakukan guna menciptakan ekosistem yang berkelanjutan bagi seluruh pihak,” ujar Neneng dalam keterangan resmi.

Perusahaan memastikan layanan GrabBike Hemat untuk konsumen tetap tersedia dan tarif layanan reguler tidak mengalami kenaikan.

Grab juga menyatakan berbagai program kesejahteraan mitra, seperti BPJS Ketenagakerjaan, asuransi, hingga program pengembangan, tetap berjalan.

Di sisi lain, GoTo menyebut layanan GoRide Hemat nantinya akan mengikuti kebijakan pemangkasan potongan aplikator menjadi delapan persen sesuai Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026.

“Dampak dari ini, khususnya hanya untuk layanan GoRide Hemat, akan ada penyesuaian harga konsumen secara sangat terbatas. Kami memastikan bahwa penyesuaian ini dilakukan secara terukur dan tetap mengutamakan keterjangkauan bagi masyarakat,” ujar Hans.

Perusahaan memperkirakan kebijakan tersebut akan berdampak pada penyesuaian harga layanan GoRide Hemat secara terbatas bagi konsumen.

Meski demikian, layanan GoRide reguler dipastikan tidak mengalami kenaikan tarif dan hingga kini masih menjadi layanan yang paling banyak digunakan pelanggan.

Artikel terkait

Rekomendasi