Tiga Penumpang Kapal Pesiar MV Hondius Meninggal Diduga Infeksi Hantavirus

Tiga Penumpang Kapal Pesiar MV Hondius Meninggal Diduga Infeksi Hantavirus

Kematian tiga penumpang di atas kapal pesiar MV Hondius saat berlayar di Samudra Atlantik memicu perhatian publik. Kejadian ini diduga kuat berkaitan dengan infeksi hantavirus yang telah berlangsung sejak Maret 2026.

Kapal yang dioperasikan oleh Oceanwide Expeditions tersebut membawa sekitar 150 hingga 170 penumpang dan kru. Perjalanan dimulai dari Ushuaia, Argentina, melintasi rute Antartika serta Kepulauan Falkland menuju Cape Verde.

Dilansir dari Suara, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama otoritas kesehatan Afrika Selatan melaporkan korban jiwa meliputi sepasang suami-istri asal Belanda dan satu orang lainnya. Hasil uji laboratorium telah mengonfirmasi setidaknya dua kasus positif hantavirus.

Hantavirus merupakan kelompok virus yang bersumber dari hewan pengerat, terutama tikus. Penularan kepada manusia biasanya terjadi melalui proses inhalasi aerosol dari urine, feses, atau air liur tikus yang sudah terkontaminasi.

Infeksi ini tidak menyebar antarmanusia dengan mudah, melainkan melalui kontak lingkungan dengan hewan pembawa. Saat ini, satu penumpang masih mendapatkan perawatan intensif di Afrika Selatan sementara proses evakuasi medis berlanjut.

Kapal MV Hondius sempat mendapatkan larangan untuk merapat di Cape Verde sebagai bagian dari langkah preventif. Pemerintah setempat berupaya meminimalisir potensi penyebaran virus tersebut di wilayah daratan.

Gejala awal hantavirus kerap menyerupai flu biasa, seperti demam tinggi, sakit kepala, dan mual. Namun, kondisi ini bisa memburuk menjadi sindrom paru hantavirus (HPS) atau sindrom demam berdarah dengan gagal ginjal (HFRS).

Tingkat kematian akibat virus ini tergolong tinggi, yakni mencapai 30 hingga 40 persen pada kasus yang parah. Masa inkubasi atau munculnya gejala biasanya memakan waktu antara satu hingga delapan minggu setelah terpapar.

Potensi Ancaman di Wilayah Indonesia

Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai wabah hantavirus di Indonesia yang berkaitan dengan insiden kapal pesiar tersebut. Lokasi kejadian di Samudra Atlantik dinilai sangat jauh dari wilayah Asia Tenggara.

Risiko penularan ke tanah air dianggap sangat rendah mengingat karakteristik virus yang bukan merupakan penyakit yang mudah menular antarmanusia. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan oleh masyarakat setempat.

Catatan Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa Indonesia pernah melaporkan delapan kasus hantavirus tipe HFRS pada pertengahan 2025. Kasus-kasus sporadis tersebut ditemukan di wilayah Yogyakarta, Jawa Barat, NTT, dan Sulawesi Utara.

Populasi tikus yang tinggi di beberapa daerah serta standar sanitasi yang belum merata menjadi faktor risiko potensial. Area pertanian dan tempat penyimpanan makanan sering kali menjadi titik kerawanan kontaminasi kotoran hewan pengerat.

Langkah Pencegahan yang Diperlukan

Masyarakat dihimbau untuk memperketat kebersihan lingkungan dan menutup semua celah yang memungkinkan tikus masuk ke dalam rumah. Penyimpanan bahan makanan juga harus dilakukan di dalam wadah yang tertutup rapat.

Saat membersihkan area yang diduga terkontaminasi, penggunaan masker dan sarung tangan sangat disarankan. Sangat penting untuk membasahi area tersebut dengan disinfektan terlebih dahulu agar partikel kotoran tidak terhirup ke saluran pernapasan.

Kementerian Kesehatan terus melakukan pemantauan terhadap berbagai penyakit emerging melalui sistem surveilans epidemiologi. Masyarakat diminta untuk tetap tenang namun waspada terhadap gejala kesehatan setelah melakukan kontak dengan hewan pengerat.

Artikel terkait

Rekomendasi