Puluhan Penumpang Kapal MV Hondius Pulang Sebelum Wabah Virus Hanta

Puluhan Penumpang Kapal MV Hondius Pulang Sebelum Wabah Virus Hanta

Sebanyak 23 penumpang kapal pesiar MV Hondius dilaporkan telah kembali ke negara asal mereka sebelum wabah virus hanta merebak di dalam kapal tersebut. Dilansir dari Detik Travel, puluhan penumpang tersebut turun saat kapal melakukan persinggahan di Pulau Saint Helena pada 23 April 2026.

Para penumpang yang turun dikabarkan belum mengetahui adanya paparan virus saat meninggalkan kapal. Informasi mengenai kepulangan puluhan orang tersebut disampaikan oleh salah satu penumpang yang hingga kini masih tertahan di atas kapal pesiar tersebut.

"Ada 23 orang yang kini tersebar di berbagai negara dan sampai tiga hari lalu belum ada yang menghubungi mereka," ujarnya seperti ditulis New York Post dari surat kabar Spanyol, El Pais.

Penumpang tersebut merinci bahwa mereka yang sudah turun kini telah berada di Australia, Taiwan, Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda. Pelacakan kontak menjadi perhatian utama karena risiko penyebaran virus yang meluas secara global melalui jalur penerbangan internasional.

"Orang Australia itu kembali ke Australia, ada yang dari Taiwan telah kembali ke sana, orang Amerika juga telah kembali ke beberapa bagian Amerika. Ada orang Inggris yang sudah kembali ke Inggris, dan orang Belanda itu juga telah kembali ke rumah mereka," kata penumpang itu.

Kekhawatiran terbukti setelah seorang warga Swiss yang pulang bersama istrinya dinyatakan positif virus hanta pada Rabu lalu. Meskipun hasil tes awal di rumah sakit Zurich menunjukkan negatif, virus ini diketahui memiliki masa inkubasi hingga delapan minggu sebelum memicu gejala klinis.

Pihak penyelidik di Argentina menduga wabah ini bermula dari pasangan asal Belanda yang mengunjungi area pembuangan sampah di Ushuaia sebelum keberangkatan kapal pada 20 Maret. WHO menduga varian yang menyebar adalah Andes hantavirus yang memiliki kemampuan menular antarmanusia melalui kontak dekat.

Pakar penyakit menular dari University of Nebraska Medical Center, Ali Khan, memberikan penjelasan mengenai pola penyebaran virus langka ini di lingkungan kapal. Menurutnya, risiko penularan memerlukan kondisi interaksi yang sangat spesifik.

"Penularannya membutuhkan percikan air liur dalam kontak dekat antarmanusia," kata Khan.

Khan menambahkan bahwa interaksi jarak dekat yang berlangsung lama seperti makan bersama atau percakapan panjang menjadi media penularan yang paling memungkinkan. Saat ini, keterlambatan pelacakan kontak menjadi kendala utama mengingat penumpang pertama dilaporkan sudah sakit sejak 6 April dan meninggal dunia pada 11 April.

Artikel terkait

Rekomendasi