Tubuh ibu hamil secara otomatis melakukan persiapan untuk fase menyusui jauh sebelum hari persalinan tiba. Kondisi ini terkadang memicu keluarnya cairan dari puting secara tiba-tiba selama masa kehamilan.
Fenomena puting bocor ini umumnya terjadi pada masa-masa akhir kehamilan dan dikategorikan sebagai kondisi yang aman serta normal. Cairan yang keluar tersebut menjadi sinyal bahwa tubuh sedang melakukan simulasi untuk menyambut kelahiran bayi.
Dilansir dari Medcom, peningkatan hormon tertentu menjadi pemicu utama dari munculnya rembesan cairan ini pada payudara ibu hamil.
"Tingkat prolaktin yang tinggi atau hormon, yang mempersiapkan payudara kamu untuk menyusui pada akhir kehamilan, terkadang dapat menyebabkan cairan bocor dari puting saat dirangsang," kata Marjorie Greenfield, MD.Marjorie Greenfield, MD merupakan profesor asisten obstetri dan ginekologi di Case School of Medicine dan University Hospitals di Cleveland, sekaligus penulis buku The Working Woman's Pregnancy Book dalam Parents.
Cairan yang keluar dari payudara tersebut biasanya berbentuk kolostrum, yakni ASI pertama yang memiliki kandungan kaya nutrisi untuk kebutuhan bayi. Kebocoran ini dapat muncul tanpa disadari ketika sedang mandi, mengganti pakaian, tidur, memikirkan bayi, hingga saat berhubungan intim.
Sistem produksi ASI mulai aktif secara perlahan seiring dengan meningkatnya hormon kehamilan di dalam tubuh. Proses hormonal ini membuat payudara menjadi lebih sensitif dan mudah bereaksi terhadap perubahan suhu maupun sentuhan ringan.
Intensitas cairan yang keluar berbeda bagi setiap ibu hamil, di mana beberapa wanita hanya mengalami sedikit tetesan sementara yang lain mengalami kebocoran lebih sering. Kondisi tersebut tidak berbahaya dan menjadi indikator positif bahwa tubuh bersiap untuk proses laktasi setelah melahirkan.
Cara Mengatasi Ketidaknyamanan Puting Bocor
Kebocoran puting memang tidak dapat dihentikan sepenuhnya, namun terdapat beberapa langkah sederhana untuk mengurangi rasa tidak nyaman yang ditimbulkan. Ibu hamil dapat memasang bantalan menyusui atau breast pad di dalam bra untuk menyerap cairan agar tidak membasahi pakaian.
Penggunaan bantalan ini efektif mendukung kenyamanan saat beraktivitas sekaligus menjaga area sekitar payudara tetap kering. Ibu hamil yang ingin memahami proses laktasi lebih awal juga dapat memilih opsi berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau konsultan laktasi.
Bagaimanapun, aktivitas memompa ASI atau pengambilan kolostrum sebaiknya dihindari apabila usia kehamilan belum mencapai 37 minggu. Larangan ini juga berlaku bagi ibu hamil yang memiliki riwayat atau risiko persalinan prematur.
Kondisi yang Memerlukan Kewaspadaan
Meskipun secara umum normal, terdapat beberapa gejala spesifik pada cairan payudara yang memerlukan perhatian medis segera. Pemeriksaan dokter harus segera dilakukan jika cairan yang keluar dari puting bercampur darah, mengeluarkan bau tidak sedap, atau disertai rasa nyeri.
Munculnya cairan berdarah dapat mengindikasikan adanya infeksi bakteri atau kondisi nonkanker yang disebut papilloma intraduktal. Pada beberapa kasus yang jarang terjadi, gejala tersebut dapat menjadi tanda awal kanker payudara sehingga evaluasi dari tenaga kesehatan tetap dibutuhkan.