Kenali Perbedaan Hantavirus dan Leptospirosis dari Gejala Hingga Penularan

Kenali Perbedaan Hantavirus dan Leptospirosis dari Gejala Hingga Penularan

Hantavirus dan leptospirosis merupakan dua jenis penyakit yang kerap dikaitkan dengan keberadaan hewan pengerat. Meskipun keduanya memiliki kaitan erat dengan tikus, terdapat perbedaan mendasar yang perlu dipahami oleh masyarakat untuk langkah pencegahan dini.

Dilansir dari Detik Health, perbedaan kedua penyakit ini mencakup aspek penyebab, gejala klinis, hingga mekanisme penularannya kepada manusia. Mengenali karakteristik masing-masing penyakit menjadi krusial guna menghindari risiko paparan yang lebih luas.

Hantavirus dipicu oleh virus yang berasal dari genus Orthohantavirus. Virus ini dibawa oleh berbagai jenis hewan pengerat, termasuk celurut dan beragam jenis tikus seperti tikus got, tikus rumah, tikus ladang, hingga mencit rumah.

Mekanisme penularannya terjadi saat manusia melakukan kontak langsung dengan hewan pengerat atau ekskresinya, seperti air liur, urine, dan kotoran. Paparan dapat masuk melalui kulit yang luka, membran mukosa di mata, hidung, mulut, hingga partikel debu yang sudah terkontaminasi.

Varian Gejala Hantavirus

Manifestasi klinis hantavirus terbagi menjadi dua kategori utama berdasarkan organ yang diserang:

1. Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS): Jenis ini menyerang ginjal dan pembuluh darah dengan masa inkubasi satu hingga dua minggu. Gejalanya meliputi demam, menggigil, nyeri punggung, mual, gangguan penglihatan, hingga perdarahan.

2. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS): Penyakit ini menargetkan organ paru-paru dengan masa inkubasi 14 hingga 17 hari. Pasien biasanya mengalami sesak napas akut, gagal napas, kelelahan hebat, serta nyeri pada kelompok otot besar seperti paha dan pinggul.

Memahami Ancaman Leptospirosis

Berbeda dengan hantavirus yang disebabkan oleh virus, leptospirosis merupakan penyakit akibat infeksi bakteri Leptospira interogans. Bakteri ini diketahui dapat bertahan hidup selama bertahun-tahun di dalam ginjal hewan tanpa menimbulkan gejala pada inangnya.

Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, bakteri ini tidak hanya dibawa oleh tikus. Beberapa hewan lain seperti babi, anjing, kuda, hingga sapi juga dapat menjadi sarana penyebaran bakteri leptospira kepada manusia.

Gejala dan Penularan Leptospirosis

Gejala leptospirosis umumnya muncul dalam rentang waktu dua hari hingga empat minggu setelah terinfeksi. Indikasi yang sering muncul antara lain demam, sakit kepala, diare, mata merah, nyeri otot, hingga munculnya bintik-bintik merah pada kulit yang tidak memudar saat ditekan.

Penularan bakteri ini terjadi melalui kontak kulit dengan urine hewan yang terinfeksi atau air dan tanah yang telah terkontaminasi. Bakteri masuk ke tubuh manusia melalui luka terbuka atau lewat selaput lendir di saluran pencernaan, mulut, hidung, dan mata.

Langkah Pencegahan Penyakit dari Hewan Pengerat

Guna menekan risiko penularan kedua penyakit tersebut, menjaga kebersihan lingkungan menjadi langkah utama yang paling efektif. Masyarakat diimbau untuk membersihkan area rumah atau lokasi yang jarang terpakai menggunakan cairan disinfektan.

Penggunaan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan sepatu bot sangat disarankan bagi mereka yang beraktivitas di area berisiko tinggi. Selain itu, menutup luka dengan plester tahan air dan memastikan sumber air minum terjamin kebersihannya merupakan prosedur standar keselamatan.

Melakukan pengelolaan sampah dengan benar dan menyimpan stok makanan di tempat tertutup juga penting untuk menghindari kedatangan hewan pengerat. Bagi pemilik hewan peliharaan atau ternak, pemberian vaksinasi rutin menjadi langkah preventif tambahan yang sangat dianjurkan.

Artikel terkait

Rekomendasi