Masyarakat global memperingati Hari Lupus Sedunia pada Minggu, 10 Mei 2026, sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran terhadap penyakit autoimun kronis yang mengancam nyawa. Kampanye tahun ini mengusung tema "Make Lupus Visible" guna menyoroti gejala-gejala yang sering tidak kasat mata bagi masyarakat luas.
Peringatan yang jatuh setiap tanggal 10 Mei ini bertujuan menyatukan kelompok pendukung penderita di seluruh dunia sekaligus menarik perhatian pada dampak kesehatan yang ditimbulkan. Melansir dari rri.co.id, tema tahun 2026 fokus pada gejala seperti nyeri sendi dan kelelahan ekstrem guna meminimalkan keterlambatan diagnosis medis.
Lupus merupakan kondisi saat sistem kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan, sel, dan organ sehat sehingga memicu peradangan. Penyakit ini kerap dijuluki sebagai "penyakit seribu wajah" lantaran gejalanya sangat bervariasi dan sering menyerupai penyakit lain, mulai dari gangguan kulit hingga kerusakan organ dalam.
Sejarah penetapan Hari Lupus Sedunia bermula pada tahun 2004 oleh Lupus Foundation of America bertepatan dengan Kongres Internasional ke-7 di New York. Dilansir dari goodnewsfromindonesia.id, gerakan ini awalnya hanya melibatkan 13 negara sebelum akhirnya berkembang luas di bawah naungan World Lupus Federation.
Faktor risiko penyakit ini dipengaruhi oleh aspek genetik, lingkungan, hingga hormon, di mana kelompok usia 15 sampai 40 tahun serta kaum perempuan memiliki kerentanan lebih tinggi. Paparan sinar matahari berlebih dan konsumsi obat tertentu juga dilaporkan dapat memicu munculnya gejala pada individu yang rentan.
Bahaya utama dari penyakit ini terletak pada kemampuannya menyerang organ vital seperti paru-paru, jantung, ginjal, hingga otak yang berpotensi menyebabkan kecacatan permanen. Meski belum dapat disembuhkan secara total, penanganan dini sangat krusial untuk menekan tingkat kerusakan organ pada penyintas.
"Make Lupus Vicible" kata Murniadi, Editor.
Narasi kampanye tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan layanan kesehatan dan mempercepat penelitian global terkait metode pengobatan. Federasi Lupus Sedunia terus menyuarakan pentingnya dukungan bagi pasien agar mereka tidak lagi menghadapi kondisi penyakit ini dalam kesendirian.
"penyakit seribu wajah" kata Kementerian Kesehatan RI, Lembaga Pemerintah.
Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa pemahaman masyarakat yang rendah masih menjadi tantangan besar dalam penanganan kasus. Edukasi yang konsisten diperlukan agar setiap gejala awal dapat terdeteksi sebelum terjadi komplikasi fatal pada organ-organ tubuh penderita.