PT Pertamina (Persero) memperluas kolaborasi global bersama Halliburton di Houston, Amerika Serikat, untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui peningkatan kinerja sektor hulu minyak dan gas bumi. Dilansir dari Market, kemitraan strategis ini berfokus pada integrasi teknologi guna mengoptimalkan operasi di lapangan migas Indonesia.
Kesepakatan ini merupakan langkah nyata dari Nota Kesepahaman yang telah ditandatangani pada Februari lalu untuk mengembangkan implementasi yang lebih konkret. Fokus utama kerja sama mencakup optimalisasi keekonomian multistage fracturing (MSF) dan percepatan monetisasi sumber daya migas nonkonvensional di tanah air.
Direktur Utama Pertamina Hulu Energi, Oki Muraza, menekankan bahwa penggunaan teknologi digital serta model eksekusi yang teruji merupakan instrumen krusial dalam mengelola reservoir kompleks. Pengalaman operasional Halliburton di Amerika Serikat akan diadaptasi untuk mendukung target produksi di berbagai wilayah kerja Pertamina.
“Pertamina berfokus pada penerapan teknologi dan model operasi yang tepat untuk meningkatkan kinerja hulu. Melalui kolaborasi dengan pemimpin teknologi global seperti Halliburton, kami menargetkan optimalisasi keekonomian MSF serta percepatan pengembangan sumber daya non-konvensional di Indonesia,” ujar Oki.
Pihak Halliburton menyatakan kesiapannya dalam mendukung ambisi produksi Pertamina melalui penyediaan kapabilitas terbaik di bidang produksi dan penyelesaian sumur. Komitmen ini mencakup dukungan penuh pada ekosistem sumber daya nonkonvensional melalui teknologi terkini.
“Halliburton berkomitmen kuat untuk berkolaborasi dengan Pertamina dalam meningkatkan produksi migas Indonesia. Kami siap menghadirkan kapabilitas terbaik kami di bidang fracturing dan production enhancement untuk mendukung Pertamina dalam memonetisasi Low Quality Reservoirs melalui MSF, sekaligus berkontribusi pada pengembangan ekosistem sumber daya non-konvensional Indonesia secara lebih luas,” ujar Eric Holley, Senior Vice President of Production Enhancement Halliburton.
Selain fokus pada MSF, kedua perusahaan juga mulai menjajaki pemanfaatan teknologi agentic AI untuk interpretasi bawah permukaan dan pemodelan reservoir. Inisiatif lainnya mencakup pengembangan Unconventional Early Development Concept (EDC) yang menitikberatkan pada desain fracturing yang lebih efisien.
Rencana kolaborasi ke depan juga meliputi implementasi Multi-Lateral Drilling and Completion serta Integrated Asset Management khusus untuk lapangan minyak yang sudah matang atau mature. Program-program ini dirancang untuk mendorong efisiensi biaya sekaligus menjaga stabilitas produksi hulu migas nasional melalui inovasi berbasis digital.