PT Pertamina Hulu Energi menguasai mayoritas lifting minyak dan gas bumi nasional sepanjang tahun 2025 ditengah tantangan penurunan produksi alamiah yang tinggi. Berdasarkan data yang dilansir dari Suara pada Selasa (26/5/2026), anak usaha PT Pertamina (Persero) ini menyumbang 65 persen lifting minyak dan 35 persen produksi gas nasional.
Total output dari blok domestik maupun internasional milik perseroan menyentuh angka 1,332 juta barel setara minyak per hari (BOEPD). Rinciannya mencakup produksi minyak domestik sebesar 396 ribu barel per hari dan aset internasional 160 ribu barel per hari, sedangkan sektor gas mencapai 2.757 MMSCFD.
Kinerja operasional tersebut disampaikan langsung oleh manajemen perseroan dalam agenda rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI.
“Maka di tahun 2025 produksi baik yang domestik maupun yang internasional, adalah mencapai 1.332.000 barrel oil equivalent per day,” ujar Awang Lazuardi, Direktur Utama PHE.
Pihak manajemen menjelaskan bahwa lapangan migas yang menua memicu ancaman penurunan produksi alamiah (natural decline) yang sangat signifikan. Tanpa adanya intervensi dan strategi penahanan laju penurunan, produksi minyak perusahaan diproyeksikan merosot hingga 24 persen per tahun dan gas menyusut 21 persen.
“Artinya, jika kita tidak melakukan apa-apa atau tidak ada effort menahan decline, maka produksi kita secara natural setiap tahun untuk minyak akan turun 24 persen sedangkan untuk gas akan turun sebesar 21 persen,” kata Awang Lazuardi, Direktur Utama PHE.
Guna mengatasi persoalan penurunan tersebut, perusahaan menyiapkan langkah agresif dengan target pengeboran sekitar 900 sumur baru pada tahun ini. Program kerja ini dikombinasikan dengan hampir 1.300 aktivitas perawatan sumur (work over), lebih dari 37 ribu intervensi sumur, serta implementasi teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR).
Langkah ekspansi juga dilakukan melalui akuisisi sejumlah wilayah kerja baru sepanjang periode 2022-2025, termasuk Blok Pinayan, Lavender, dan Bobara.
“Ini akan menjadi nafas kita ke depan. Ini akan menjadi game changer kita apabila kita melakukan eksplorasi di sini, dan memberikan hasil yang cukup signifikan,” ujar Awang Lazuardi, Direktur Utama PHE.
Eksplorasi di wilayah-wilayah kerja baru tersebut diproyeksikan menjadi pendorong utama pertumbuhan produksi perusahaan sekaligus memperkuat ketahanan energi di masa mendatang.