PT Pertamina (Persero) memperkuat strategi manajemen risiko guna menjaga ketahanan energi nasional di tengah fluktuasi harga komoditas dan gangguan rantai pasok global. Upaya ini ditegaskan dalam diskusi Pertamina Talks 2026 yang berlangsung pada Kamis, 7 Mei 2026, di tengah dinamika geopolitik yang menantang.
Dilansir dari Detik Finance, Direktur Manajemen Risiko PT Pertamina (Persero), Ahmad Siddik Badruddin, memaparkan bahwa langkah antisipasi sangat krusial mengingat tingginya ketergantungan Asia terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Saat ini, sekitar 20 hingga 30 persen kebutuhan energi di Asia berasal dari wilayah tersebut.
"Manajemen risiko berfungsi mengantisipasi krisis Timur Tengah dengan menjabarkan skenario-skenario yang dapat terjadi. Kita memastikan seluruh produk energi tetap tersalurkan di seluruh Indonesia. Kemudian, juga mengantisipasi adanya berbagai risiko," ujar Siddik, dalam Pertamina Talks 2026, Jumat (8/5/2026).
Siddik menjelaskan bahwa persaingan antarnegara untuk mendapatkan pasokan energi semakin ketat, terutama karena sebagian pasokan tertahan di Selat Hormuz. Selain pengawasan internal, ia menekankan bahwa peran masyarakat dalam mengonsumsi energi secara bijak menjadi faktor kunci dalam mitigasi risiko jangka panjang.
"Pertamina dan masyarakat harus sama sama memitigasi risiko, in case masalah atau tantangan di Timur Tengah tidak kunjung selesai. Kita harus sama sama bijak dalam menggunakan energi, tidak perlu panik," ungkapnya.
Dari sisi operasional lapangan, Perwira Subholding Downstream Pertamina Patra Niaga, Gigih Aji Wicaksono, memastikan distribusi di titik-titik krusial seperti Fuel Terminal Dobo tetap terjaga. Gigih bertanggung jawab mengawasi penerimaan stok dari kapal hingga menjaga mutu BBM sebelum sampai ke tangan konsumen.
"Kami dan teman teman menjadi garda terdepan sebelum BBM diterima di masyarakat. Dari prosesnya, kami menerima BBM dari kapal, disimpan di storage Pertamina, dan baru didistribusikan kepada masyarakat. Dari ketiga proses tersebut, kami terus memastikan kualitas terjaga sejak diterima sampai disalurkan ke masyarakat," ungkap Gigih.
Mendukung aspek efisiensi dari sisi pengguna, Praktisi Otomotif Rifat Sungkar mengingatkan bahwa perilaku berkendara sangat memengaruhi tingkat konsumsi bahan bakar. Ia menyoroti kondisi berkendara dinamis sebagai salah satu penyebab utama pemborosan energi pada kendaraan bermotor.
"Sebetulnya teknik nyetir kendaraan balik lagi kepada user. Teorinya more power, more energy. Semakin banyak tenaga dikeluarin, pasti akan banyak energi yang dikeluarkan," ujar Rifat.
Rifat menyarankan pemilik kendaraan untuk disiplin melakukan pemeriksaan jalan dan perencanaan perjalanan guna menekan penggunaan energi yang tidak perlu. Penggunaan pelumas sesuai spesifikasi pabrikan juga disebut mampu meningkatkan efisiensi kerja mesin kendaraan secara signifikan.