PT Pertamina (Persero) memaparkan strategi besar dalam menjaga ketahanan energi nasional melalui optimalisasi sumber daya domestik dan peningkatan produksi migas. Langkah strategis untuk mengurangi impor energi serta mengembangkan bisnis rendah karbon secara berkelanjutan tersebut disampaikan dalam ajang IPA Convex 2026 di Tangerang, Banten, yang dilansir dari Detik Finance.
Status Indonesia yang saat ini masih menjadi net importir energi di tengah tantangan geopolitik global menjadi perhatian serius. Direktur Strategi, Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina, Emma Sri Martini menjelaskan bahwa target ketahanan energi ini merupakan mandat langsung dari Presiden untuk dicapai dalam beberapa tahun ke depan.
"Ini adalah pekerjaan rumah kita. Juga menjadi pekerjaan rumah Indonesia, mengenai bagaimana ketahanan energi menjadi target kita, bahkan dalam 4-5 tahun ke depan sesuai mandat Presiden," ujar Emma Sri Martini, Direktur Strategi, Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina.
Peningkatan produksi dan lifting migas nasional kini difokuskan melalui pemanfaatan teknologi baru serta penguatan kemitraan strategis. Pertamina juga mendorong adanya skema fiskal dan insentif yang kondusif dari pemerintah guna menarik investasi di sektor hulu migas.
"Hal yang penting adalah bagaimana menciptakan lingkungan yang kondusif untuk meningkatkan keekonomian proyek, kelayakan proyek, dan meyakinkan Pemerintah untuk menyediakan semacam skema dan insentif fiskal yang baik bagi proyek guna mempercepat produksi dan lifting," jelas Emma Sri Martini, Direktur Strategi, Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina.
Perusahaan energi pelat merah ini membagi fokusnya ke dalam pilar optimalisasi bisnis fosil eksisting dan percepatan bisnis rendah karbon. Di sektor hilir, pengurangan impor produk olahan dilakukan dengan mendukung program mandatori biodiesel menuju B50 serta melakukan revamping kilang.
Langkah penyesuaian kilang tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas produksi energi ramah lingkungan, termasuk pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis minyak jelantah. Keterlibatan aktif direksi dalam mengedukasi strategi ini juga menyasar generasi muda sebagai agen perubahan di masyarakat.
"Mahasiswa tidak hanya dipandang sebagai generasi penerus dimasa depan, namun mahasiswa juga dapat menjadi agen perubahan di masyarakat. Dengan informasi dan pemahaman yang mereka miliki, mahasiswa dapat menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan energi bangsa," kata Muhammad Baron, VP Corporate Communication Pertamina.
Pertamina mendukung peran tersebut melalui sejumlah program berkelanjutan tahunan seperti Pertamina Goes To Campus (PGTC), Beasiswa Sobat Bumi, dan PF Muda. Edukasi mengenai bisnis migas dan inovasi gerakan sosial terus didorong untuk membangun aksi nyata dari mahasiswa.
"Dengan kondisi geopolitik saat ini, yang juga terasa pengaruhnya ke Indonesia, Pertamina mengajak mahasiswa menjadi aktor penting dalam menjaga ketahanan energi bangsa. Melalui berbagai program bagi mahasiswa, Pertamina berharap generasi muda tidak hanya memahami, namun juga melakukan aksi nyata salah satunya melalui bijak menggunakan energi," pungkas Muhammad Baron, VP Corporate Communication Pertamina.