Presiden China Xi Jinping menyambut kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing pada Kamis pagi, 14 Mei 2026, untuk memulai pertemuan puncak tingkat tinggi selama dua hari. KTT ini dijadwalkan membahas isu krusial mulai dari perdagangan dan tarif hingga situasi di Taiwan, Iran, serta pengembangan kecerdasan buatan.
Dalam sesi pembukaan yang disiarkan secara resmi, Presiden Xi menyoroti perhatian dunia terhadap pertemuan tersebut. Pemimpin China itu menekankan pentingnya stabilitas hubungan kedua negara di tengah dinamika kekuatan global.
"Thucydides Trap" kata Xi Jinping, merujuk pada konsep sejarah di mana ketegangan antara kekuatan yang sedang bangkit dan kekuatan penguasa sering kali berujung pada peperangan.
Pernyataan tersebut direspons positif oleh Donald Trump yang memprediksi hubungan kedua negara akan semakin solid. Trump mencatat bahwa hubungan personal antar kedua pemimpin telah terjalin sangat lama dibandingkan pasangan presiden AS dan China lainnya.
"better than ever before," tutur Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Menanggapi momentum diplomasi ini, Profesor Harvard Graham Allison menilai gencatan senjata perdagangan yang dicapai sebelumnya akan berkembang menjadi kesepakatan formal. Ia memprediksi fokus utama pertemuan ini adalah stabilisasi.
"The big word will be stabilization," ujar Graham Allison, Profesor Harvard.
Delegasi Amerika Serikat dalam kunjungan ini juga menyertakan tokoh-tokoh besar dari sektor bisnis. Nama-nama seperti Elon Musk dari Tesla, Tim Cook dari Apple, dan Jensen Huang dari Nvidia turut hadir dalam rombongan kepresidenan.
Analis dari Center for Strategic and International Studies, Scott Kennedy, memberikan pandangan mengenai posisi tawar China yang dinilai lebih kuat dibandingkan tahun 2017. Ia menyebut China telah mampu menetralkan banyak tindakan ekonomi yang diambil AS dalam setahun terakhir.
"China comes into this meeting far more confident than in 2017, when it feared even a small rise in U.S. tariffs. In the last year, Xi has been able to push back and neutralize much of Trump's actions," ucap Scott Kennedy, Penasihat Senior CSIS.
Meskipun ekspektasi terhadap kesepakatan besar masih rendah, Kennedy menegaskan bahwa seremoni penyambutan ini menunjukkan betapa pentingnya hubungan kedua negara bagi stabilitas dunia. Isu komersial dan keamanan tetap menjadi fokus utama yang dipantau publik internasional.
"Although expectations are low and no grand bargain is likely, the welcoming ceremony and initial remarks at the opening session highlight how truly consequential this relationship is for the world," kata Scott Kennedy.
Pertemuan pertama kedua presiden berlangsung selama sekitar satu jam sebelum dilanjutkan dengan rencana kunjungan Trump ke Temple of Heaven. Rangkaian acara hari pertama akan ditutup dengan perjamuan kenegaraan pada Kamis malam di Beijing.