Istilah Medis PCOS Berganti Menjadi PMOS Tekankan Masalah Metabolik

Istilah Medis PCOS Berganti Menjadi PMOS Tekankan Masalah Metabolik

Komunitas medis internasional menyepakati perubahan nama kondisi kesehatan reproduksi wanita dari Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) menjadi Polycystic Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS) pada Kamis (14/5/2026). Perubahan identitas medis ini melibatkan konsensus dari 50 organisasi pasien dan profesional global guna mencerminkan dampak kondisi tersebut pada kesehatan metabolisme secara menyeluruh.

Istilah baru ini dipilih karena PMOS tidak hanya memengaruhi sistem reproduksi, tetapi juga menyebabkan fluktuasi hormon yang berdampak pada kesehatan mental, berat badan, hingga kondisi kulit. Perubahan ini dilansir dari Detik Health sebagai langkah besar dalam pergeseran paradigma medis terkait penanganan gangguan endokrin pada wanita.

Pakar kesehatan reproduksi, dr. Muhammad Fadli, SpOG, memberikan penjelasan mendalam mengenai penyematan kata 'metabolic' yang kini menjadi inti dari nama sindrom tersebut. Ia menegaskan bahwa selama ini terdapat miskonsepsi besar di masyarakat maupun kalangan medis mengenai keberadaan kista pada pasien.

"Selama ini kita berpikir itu kista, padahal bukan. Kalau kista itu cairannya besar-besar. Sementara pada kondisi ini, yang terjadi adalah telurnya kecil-kecil atau folikel yang tidak bisa berkembang," ujar dr. Fadli, SpOG.

Dokter Fadli menilai penamaan baru ini akan mengarahkan tenaga medis untuk lebih fokus pada perbaikan kelenjar penghasil hormon daripada hanya mengurusi organ ovarium. Fokus utama kini bergeser pada keseimbangan endokrin secara total agar penanganan pasien menjadi lebih tepat sasaran.

"Dengan perubahan nama ini, penanganan jadi lebih tepat. Kita tidak lagi hanya mengurusi ovarium, tapi memperbaiki kelenjarnya agar mengeluarkan hormon yang seimbang," tambah dr. Fadli, SpOG.

Berdasarkan rilis konsensus internasional, penggunaan kata 'polycystic' sebelumnya sering memicu kebingungan karena banyak pasien yang didiagnosis tidak memiliki kista sama sekali. Sebaliknya, penderita kista ovarium justru banyak yang tidak mengidap sindrom metabolik ini.

Profesor Helena Teede, Direktur Pusat Penelitian & Implementasi Kesehatan Monash, memimpin inisiatif perubahan nama ini setelah melakukan riset selama puluhan tahun. Ia menyoroti bahwa fitur-fitur beragam dari kondisi ini sering kali diabaikan oleh para praktisi kesehatan sebelumnya.

"Yang kita ketahui sekarang adalah sebenarnya tidak ada peningkatan kista abnormal pada ovarium, dan beragam fitur kondisi tersebut seringkali tidak dihargai," kata Teede, Direktur Pusat Penelitian & Implementasi Kesehatan Monash.

Melalui penggunaan nama PMOS, prioritas pemantauan medis kini diarahkan pada profil metabolik pasien. Hal ini mencakup pengawasan terhadap resistensi insulin dan risiko kesehatan jangka panjang lainnya yang timbul akibat ketidakseimbangan hormon tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi