Pertamina Geothermal Energy Pangkas Intensitas Energi 10 Persen pada 2025

Pertamina Geothermal Energy Pangkas Intensitas Energi 10 Persen pada 2025

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) berhasil mencatatkan penurunan rasio intensitas energi sebesar 10,10 persen menjadi 0,037 MWh/MWh sepanjang tahun 2025. Capaian efisiensi operasional ini didorong oleh berbagai langkah teknis di sejumlah wilayah kerja panas bumi (WKP) perusahaan.

Dilansir dari Industri, efisiensi tersebut dihasilkan dari optimalisasi jalur produksi di Area Ulubelu serta peningkatan kinerja Gas Extraction System di seluruh pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP). Selain itu, modifikasi katup kontrol di Lumut Balai turut meminimalkan pembuangan uap yang tidak efisien.

Perusahaan juga mengintegrasikan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk kebutuhan internal di perkantoran dan fasilitas operasional. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pengurangan emisi dan pemanfaatan energi terbarukan yang mencapai angka 94,36 persen untuk kebutuhan operasional.

"Langkah ini dilakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan listrik dan uap panas bumi agar dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap sistem ketenagalistrikan nasional," ungkap dia dalam keterangan tertulis, kemarin.

Terkait pengelolaan lingkungan, intensitas emisi PGE berada pada level 41,12 g CO2e/kWh, jauh di bawah ambang batas Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia sebesar 100 g CO2e/kWh. Operasional perusahaan pada 2025 diklaim telah berkontribusi pada penghindaran emisi lebih dari 4,29 juta ton CO2e.

PGE juga melaporkan peningkatan pengelolaan limbah non-B3 sebesar 24,5 persen menjadi 17 ton melalui pendekatan 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery). Pengelolaan limbah ini melibatkan masyarakat dalam ekonomi sirkular melalui pemilahan dan daur ulang di tempat pemrosesan akhir.

Data Kinerja Keberlanjutan PGE 2025
Indikator KinerjaCapaian 2025Perubahan/Keterangan
Intensitas Energi0,037 MWh/MWhTurun 10,10%
Konsumsi Air262,24 megaliterTurun 33,31%
Volume Limbah Non-B317 tonNaik 24,5%
Intensitas Emisi41,12 g CO2e/kWhDi bawah standar taksonomi

Konsumsi sumber daya air perusahaan mengalami penurunan signifikan sebesar 33,31 persen menjadi 262,24 megaliter dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, PGE mengembangkan ekosistem green hydrogen melalui proyek Tanjung Sekong Green Terminal untuk mendukung dekarbonisasi lintas sektor.

Peluang pengembangan energi panas bumi juga diarahkan untuk industri hijau lainnya, termasuk penyediaan energi bersih bagi pusat data. Secara global, PGE memperoleh skor Sustainalytics ESG Risk Rating sebesar 7,1 yang menempatkan perseroan dalam jajaran Top 50 ESG Global pada 2025.

Artikel terkait

Rekomendasi