PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) mengimplementasikan program pengelolaan sampah plastik menjadi produk bernilai guna di lingkungan perusahaan pada Minggu (10/5/2026). Inisiatif ini merupakan perwujudan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui tanggung jawab sosial perusahaan.
Dilansir dari Detik Finance, fokus utama kegiatan ini mencakup pelibatan masyarakat, pelestarian lingkungan, serta pemanfaatan limbah dengan pendekatan ekonomi sirkular. Perusahaan berupaya menciptakan dampak keberlanjutan yang nyata melalui manajemen limbah terpadu.
Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman menjelaskan bahwa agenda tersebut bertujuan membentuk kebiasaan berkelanjutan di internal organisasi. Program ini melibatkan sinergi lintas fungsi untuk memastikan setiap tahapan berjalan optimal.
"Melalui kolaborasi lintas fungsi dan penerapan prinsip ekonomi sirkular, kami ingin membangun ekosistem kerja yang lebih bertanggung jawab, meningkatkan awareness ESG di internal perusahaan, sekaligus menciptakan nilai tambah dari limbah menjadi sumber daya yang bermanfaat. Program ini juga menjadi wujud nyata komitmen PGN dalam menghadirkan dampak sosial dan lingkungan yang berkelanjutan," kata Fajriyah Usman, Corporate Secretary PGN.
Sistem yang dijalankan mencakup proses pemilahan oleh pekerja, pengumpulan bersama mitra, hingga tahap pengolahan akhir. PGN bekerja sama dengan Kertabumi Recycling Centre dan Bank Sampah Al-Bustaniyah dalam eksekusinya.
Perusahaan juga menjalin kemitraan dengan Kompas dan National Geographic Indonesia guna memperluas jangkauan kampanye lingkungan. Edukasi publik menjadi elemen penting dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat terhadap sampah plastik.
"Kami berharap melalui inisiatif ini kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan dapat semakin meningkat, sehingga mampu mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola sampah plastik," ujar Fajriyah Usman, Corporate Secretary PGN.
Sementara itu, data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan tantangan besar dengan adanya 109 ton sampah tidak terkelola setiap harinya. Jumlah tersebut setara dengan 75 persen dari total timbulan sampah yang ada.
Ikbal Alexander dari Kertabumi Recycling Centre menekankan bahwa penumpukan limbah plastik berkontribusi pada peningkatan emisi gas rumah kaca. Kerusakan ekosistem menjadi ancaman serius jika kolaborasi antarpihak tidak segera diperkuat.
"Permasalahan sampah tidak dapat diselesaikan sendiri-sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara perusahaan, komunitas, dan masyarakat untuk membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab serta mendorong penerapan ekonomi sirkular yang memberikan dampak nyata bagi lingkungan," ujar Ikbal Alexander, Kertabumi Recycling Centre.
Langkah konkret berupa edukasi dan pengolahan limbah menjadi barang ekonomis dianggap sebagai solusi efektif. Pendekatan ini diharapkan mampu meminimalkan dampak buruk terhadap lingkungan secara konsisten.
"Kami melihat program seperti ini sangat penting untuk membantu mengurangi timbulan sampah plastik sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular yang berkelanjutan melalui pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab dan bernilai guna," kata Ikbal Alexander, Kertabumi Recycling Centre.