Sejumlah perusahaan raksasa global di sektor teknologi, keuangan, hingga ritel mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal pada Jumat (8/5/2026) dengan alasan integrasi kecerdasan buatan (AI). Efisiensi ini berdampak pada puluhan ribu pekerja di berbagai perusahaan besar seperti Amazon, Citi, hingga Meta.
Gelombang pengurangan staf ini terjadi seiring dengan pergeseran fokus perusahaan menuju infrastruktur teknologi canggih. Berdasarkan laporan dari Lestari, korporasi besar kini lebih memprioritaskan talenta yang mahir dalam bidang AI untuk menjaga relevansi bisnis di pasar global.
Perusahaan perangkat lunak Atlassian menjadi salah satu yang terdampak dengan rencana pengurangan 10 persen tenaga kerja atau sekitar 1.600 karyawan. CEO Atlassian, Mike Cannon-Brookes, menekankan bahwa langkah ini diambil karena adanya perubahan kebutuhan keterampilan di dalam organisasi.
"Kami pada dasarnya percaya bahwa manusia dan AI bersama-sama menciptakan hasil terbaik. Pendekatan kami bukanlah AI menggantikan manusia, namun, tidak jujur jika berpura-pura bahwa AI tidak mengubah keterampilan yang kami butuhkan atau jumlah peran yang diperlukan di area tertentu," ungkap Cannon-Brookes.
Selain Atlassian, sektor perbankan juga melakukan langkah serupa melalui Bank Citi yang memangkas 20.000 karyawannya tahun ini. Kebijakan ini diproyeksikan mampu menghemat biaya operasional perusahaan hingga 2,5 miliar dollar AS atau setara Rp 43,4 triliun per tahun.
"Perubahan ini mencerminkan penyesuaian yang kami lakukan untuk memastikan tingkat staf, lokasi, dan keahlian kami selaras dengan kebutuhan bisnis saat ini," ucap juru bicara Citi.
Sektor ritel dan olahraga juga tidak luput dari restrukturisasi, di mana Nike melakukan PHK dua gelombang yang berdampak pada 1.400 pekerja. Sebagian besar pengurangan ini menyasar divisi teknologi sebagai bagian dari upaya otomatisasi rantai pasok.
"Kami sedang mempertajam jejak rantai pasok kami, mempercepat penggunaan teknologi canggih dan otomatisasi, serta berinvestasi dalam keterampilan yang dibutuhkan tim kami untuk masa depan," tutur perwakilan Nike.
Platform media sosial Pinterest turut melakukan restrukturisasi global yang berdampak pada kurang dari 15 persen tenaga kerjanya. Fokus perusahaan kini beralih sepenuhnya pada pengembangan strategi berbasis kecerdasan buatan.
"Kami sedang melakukan perubahan organisasi untuk lebih mendukung strategi berbasis AI kami, termasuk merekrut talenta yang mahir dalam AI," jelas juru bicara Pinterest.
Secara keseluruhan, tren ini diperkuat oleh prediksi World Economic Forum yang menyatakan bahwa 41 persen perusahaan dunia akan mengurangi staf dalam lima tahun ke depan. Berikut adalah data rincian pemangkasan karyawan di berbagai sektor:
| Nama Perusahaan | Jumlah/Persentase PHK | Keterangan |
|---|---|---|
| Citi | 20.000 karyawan | Target penghematan 2,5 miliar dollar AS |
| Amazon | 16.000 karyawan | Pemangkasan kedua sejak Oktober 2025 |
| Estée Lauder | 10.000 karyawan | Mayoritas posisi kasir dan demonstrator |
| Dell | 10 persen (sekitar 11.000) | Jumlah karyawan turun jadi 97.000 |
| Atlassian | 1.600 karyawan (10 persen) | Alasan adaptasi teknologi AI |
| Nike | 1.400 karyawan | Fokus pada otomatisasi rantai pasok |
| e-Bay | 800 karyawan (6 persen) | Penyelarasan prioritas strategis |
| Workday | 400 karyawan | Pengalihan sumber daya ke area prioritas |
| Crypto.com | 12 persen tenaga kerja | Restrukturisasi internal |
World Economic Forum menambahkan bahwa meski ada pengurangan di sektor konvensional, pekerjaan di bidang big data, fintech, dan AI diprediksi akan meningkat dua kali lipat pada 2030 mendatang.