PT Phytochemindo Reksa secara resmi mengoperasikan Pabrik Klapanunggal yang berlokasi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Fasilitas ini dibangun untuk meningkatkan kapasitas produksi ekstrak bahan baku alam domestik sekaligus menekan angka impor.
Dilansir dari Detik Finance, pabrik ini berdiri di atas lahan seluas 23.235 meter persegi yang mengintegrasikan unit produksi, laboratorium riset, serta gudang penyimpanan. Perusahaan memproyeksikan fasilitas tersebut sebagai pusat operasional jangka panjang dengan standar kualitas yang konsisten.
Acara peresmian dihadiri oleh jajaran direksi perusahaan bersama perwakilan dari Badan POM, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Perindustrian. Dukungan pemerintah ini menjadi sinyal positif bagi penguatan sektor farmasi, kosmetik, hingga pangan olahan di Indonesia.
Hingga saat ini, pemenuhan kebutuhan bahan baku alam untuk industri kesehatan nasional masih didominasi oleh produk impor. Kehadiran pabrik baru ini diharapkan mampu mengoptimalkan nilai tambah dari kekayaan hayati asli Indonesia.
Perusahaan tercatat telah mengekspor produk unggulan seperti ekstrak kunyit dan temulawak ke pasar internasional sejak tahun 1992. Saat ini, jangkauan distribusi produk hasil riset tersebut telah merambah ke lebih dari 16 negara.
Direktur Utama PT Phytochemindo Reksa, Patrick Kalona, menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas di Klapanunggal merupakan bagian strategis dari visi masa depan perusahaan.
"Peresmian Pabrik Klapanunggal bukan hanya tentang pembangunan fasilitas produksi, tetapi merupakan wujud komitmen kami dalam membangun kemandirian ekstrak bahan baku alam nasional berbasis riset. Kami percaya bahwa herbal Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi solusi kesehatan global, selama dikembangkan dengan pendekatan ilmiah yang kuat dan berkelanjutan," ujar Patrick Kalona.
Ia juga menekankan pentingnya perubahan sudut pandang terhadap industri herbal agar lebih kompetitif di kancah global melalui dukungan sains modern.
"Kami ingin mengubah paradigma bahwa herbal bukan sekadar tradisi, tetapi merupakan bagian dari sains modern yang memiliki daya saing tinggi di pasar internasional," kata Patrick Kalona.
Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan POM RI, Mohamad Kashuri, memberikan apresiasi terhadap langkah ekspansi industri dalam negeri ini.
"Pemerintah terus mendorong penguatan industri farmasi berbasis riset dan inovasi. Peresmian Pabrik Klapanunggal ini mencerminkan kemajuan signifikan industri obat bahan alam di Indonesia. Kami melihat komitmen kuat dari PT Phytochemindo Reksa dalam menerapkan standar CPOBAB secara konsisten, yang menjadi kunci dalam menjamin kualitas, keamanan, dan khasiat produk. BPOM akan terus mendukung penguatan industri berbasis riset agar mampu bersaing di tingkat global," jelas Mohamad Kashuri.
Guna memperkuat aspek inovasi, perusahaan menjalin kemitraan riset dengan berbagai institusi pendidikan tinggi ternama. Kerja sama pengembangan produk berbasis alam ini melibatkan Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Sanata Dharma, dan Universitas Indonesia.
Kini Phytochemindo telah mengelola lebih dari 300 jenis produk yang tersebar di belasan negara. Fokus perusahaan ke depan adalah terus memacu daya saing industri dalam negeri agar ketergantungan pada bahan baku luar negeri terus berkurang.