Munculnya wabah hantavirus jenis andes virus di kapal pesiar mewah MV Hondius kini tengah memicu kewaspadaan global. Di Indonesia, varian virus ini juga telah ditemukan, meski dengan jenis yang berbeda yakni seoul virus.
Dilansir dari Detik Health, masyarakat diminta waspada karena gejala hantavirus sering kali disalahartikan sebagai penyakit lain. Hal ini membuat penanganan medis terkadang terlambat dilakukan karena proses diagnosis yang tidak akurat.
Berdasarkan data dari Kemenkes dan CDC, terdapat dua jenis penyakit utama yang disebabkan oleh infeksi hantavirus. Keduanya memiliki karakteristik serangan pada organ tubuh yang berbeda namun sama-sama mengancam nyawa.
1. Hemorraghic Fever with Renal Syndrome (HFRS)
Gangguan kesehatan ini lebih banyak ditemukan di wilayah Asia dan Eropa dengan fokus serangan pada pembuluh darah serta ginjal. Pasien biasanya akan mengalami kondisi menggigil yang disertai demam serta sakit kepala yang hebat.
Indikasi lainnya meliputi nyeri pada area punggung dan perut, mual, hingga penglihatan yang kabur. Pada tingkat yang lebih parah, penderita HFRS dapat mengalami perdarahan hingga kondisi gagal ginjal akut.
2. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)
HPS merupakan jenis yang lebih sering menyerang organ paru-paru dan banyak ditemukan di kawasan Amerika. Penyakit ini sangat mematikan karena memiliki tingkat kematian atau Case Fatality Rate (CFR) mencapai 50 persen.
Gejala yang muncul meliputi sesak napas akut dan kelelahan yang luar biasa. Selain itu, penderita sering merasakan nyeri otot pada bagian paha, pinggul, punggung, serta bahu yang disertai dengan kegagalan fungsi pernapasan.
Tantangan Diagnosis dan Risiko di Indonesia
Satu tantangan terbesar dalam menangani hantavirus adalah kemiripan gejalanya dengan penyakit umum lainnya. Rasa demam, mual, dan nyeri otot sering kali membuat tenaga medis menduga pasien terkena dengue, tifoid, atau leptospirosis.
Kondisi ini menyebabkan banyak kasus hantavirus tidak terdeteksi atau statusnya menjadi underdiagnosed. Padahal, hantavirus membutuhkan perhatian serius karena tiga faktor utama yang mengintai kesehatan publik.
Pertama, potensi fatalitas yang sangat tinggi pada kasus berat. Kedua, ketersediaan reservoir atau pembawa virus yang melimpah, di mana terdapat setidaknya 15 spesies tikus di Indonesia yang terkonfirmasi membawa virus ini.
Ketiga adalah risiko salah diagnosis yang membuat pasien tidak mendapatkan perawatan spesifik sejak dini. Identifikasi yang tepat terhadap populasi tikus dan pemahaman gejala menjadi kunci utama dalam mengantisipasi penyebaran virus mematikan ini.